Atasi Stunting, PT Mesti Harus Terlibat

Suasana diskusi yang digelar secara virtual antara BKKBN – Undikma Mataram, Selasa, 15 Desember 2020. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Indonesia kini sedang menghadapi perang melawan pandemi Covid-19. Namun, pada saat yang sama, Indonesia juga masih menghadapi tantangan permasalahan gizi buruk, khususnya stunting yang dikhawatirkan akan jadi lebih buruk lagi akibat pandemi Covid-19 ini.

Menurut data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) tahun 2017, prevalensi stunting Indonesia menempati urutan kelima terbesar di dunia. Dari 159 juta anak yang stunting di seluruh dunia, 9 juta di antaranya tinggal di Indonesia.

Iklan

Sementara hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada tahun 2019 bahkan menunjukkan bahwa prevalensi stunting mencapai 27,67 persen. Artinya, setiap 10 anak Indonesia, ada 3 orang di antaranya yang mengalami stunting. Angka ini juga masih di atas batas yang disyaratkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 20 persen.

“Saat ini angka stunting berada di nilai 27,67 persen. Ini sudah melampaui ambang batas yang ditolerir oleh PBB bahwa angka stunting itu hanya 20 persen,” kata Kepala Deputi Bidang Penelitian dan Pengembangan BKKBN Pusat, Prof. Rizal M. Damanik, saat hadir dalam diskusi bersama Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma) Mataram, Selasa, 15 Desember 2020.

Pihaknya pun berharap agar perguruan tinggi (pt) mampu bersama-sama mengambil peran strategis dalam mengurangi angka stunting. Caranya ialah pt bisa menempatkan mahasiswa peserta KKN tematik ke kantong-kantong  dengan angka stunting masih tinggi di NTB.

Dikatakan, bahwasanya target presiden pada tahun 2024 agar penurunan angka stunting dari 27 persen menjadi 14 persen. Tentu saja ini menjadi tugas yang tidak ringan bagi BKKBN jika dikerjakan sendirian. “Melainkan harus dikerjakan multisektor termasuk mitra strategis perguruan tinggi,” paparnya.

Sementara itu mewakili Kepala BKKBN Pusat Dr. dr. M. Yani, M.Kes., menyampaikan keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Keluarga berperan penting di dalam pembentukan karakter dan kepribadian terutama dalam mengimplementasikan nilai-nilai luhur bangsa.

Namun demikian, bangsa Indonesia masih dihadapkan pada persoalan keluarga, di antaranya ialah masalah pola pengasuhan anak. Selain itu Indonesia menghadapi masalah gizi di antaranya ialah stunting yang cenderung masih tinggi.

Berbagai upaya penurunan stunting telah dilakukan. Misalnya melalui intervensi gizi sensitif. Di samping itu, pengetahuan kesehatan reproduksi penting diketahui oleh remaja sehingga diharapkan remaja mampu bertanggung jawab terhadap proses reproduksi.

“Sosialisasi reproduksi harus terus dilakukan. Angka kelahiran kelompok umur 15-19 tahun juga masih tinggi. Kami berharap hasil analisis penelitian perguruan tinggi dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan khususnya untuk keluarga,” jelasnya.

Rektor Undikma Mataram, Prof. Koesno, PhD., menyambut baik diskusi bersama BKKN guna melahirkan generasi sehat Indonesia yang unggul melalui keluarga sehat berkualitas. Menurutnya kegiatan ini sangat penting. Ada banyak pembelajaran yang bisa diperoleh. Tentunya bermanfaat bagi kampus.

“Kegiatan ini menarik karena pada kondisi ini tantangan yang besar jelas pada aspek kesehatan. Mudahan bisa memberikan pencerahan pada masyarakat. Dengan kita lakukan diskusi ini dapat memberikan inspirasi baru dengan melihat data dan fakta yang ada. Mudahan kita dapatkan solusi di tengah masyarakat,” sambungnya. (dys)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional