Atasi Nikah Dini dan Stunting, Bupati Lotim Tidak Terjebak Teori

Bupati Lotim H. M. Sukiman Azmy (tengah) menghadiri sosialisasi pecegahan pernikahan dini dan stunting di Selong, Kamis, 4 Maret 2021. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Bupati Lombok Timur (Lotim) H. M. Sukiman Azmy mengaku sudah tidak mau lagi terjebak pada teori-teori dalam mencegah nikah dini dan stunting. Disebut sudah terlalu banyak teori menerangkan tentang cara penanganan, akan tetapi praktiknya di lapangan tidak ada.

“Penyebab ini adalah ini ini, sosialisasi itu ini ini, semuanya itu teori,” tegas Bupati Lotim saat dikonfirmasi  usai acara Sosialisasi Pencegahan Pernikahan Dini dan Stunting Bersama Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan NTB, Kamis, 4 Maret 2021.

Iklan

Bupati menekankan, pada tanggal 31 Maret 2021 mendatang semua desa harus punya Peraturan Desa (Perdes) tentang Pencegahan Perkawinan Usia Dini. Sebulan kemudian, tanggal 30 April 2021 semua harus menjadi kampung Keluarga Berencana (KB). Sebulan kemudian, sambungnya, semua tempat posyandu harus menjadi Posyandu Keluarga.

Tiga hal besar yang menjadi titik tekan bupati itu menjadi pilihannya, karena menjadi indikator peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menurutnya, kalau mau meningkatkan IPM, semua yang menjadi penekanan tersebut harus sudah terlaksana.  Dalam waktu dekat, sebagai tindak lanjut kebijakannya,  Bupati akan mengumpulkan semua camat. Termasuk kepada seluruh desa dan kelurahan di Lotim. “Semua masalahnya akan diinventarisir dan diselesaikan segera di lapangan,” ujarnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan dan Keluarga Berencana (DP3AKB), H. Ahmat mengemukakan, kasus pernikahan dini di Lotim ini masih cukup tinggi. Pada tahun 2020 lalu kasus pernikahan dini di Lotim terlapor sebanyak 42 kasus. Jumlah kasus nikah dini ini katanya terbesar dibandingkan seluruh kabupaten/kota se NTB.

Menurut H. Ahmat, masih tingginya kasus nikah di bawah usia 19 tahun ini karena kualitas SDM Kabupaten Lombok Timur yang  masih rendah. Hal tersebut ditandai  peringkat  IPM Kabupaten Lotim yang berada di posisi 8 dari 10 kabupaten/kota se-NTB.

Menurutnya, hal ini tidak lepas dari berbagai permasalahan di bidang pendidikan dan kesehatan. Masalah yang masih dihadapi dalam bidang Kesehatan antara lain tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan status gizi balita termasuk stunting. (rus)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional