Atasi Krisis Air Bersih, Bima Kesulitan Bangun Sarana dan Prasarana

Taufik. (Suara NTB/Uki)

Bima (Suara NTB) –Dinas Perumahan dan Pemukiman (Perkim) Kabupaten Bima mengaku kesulitan membangun sarana dan prasarana untuk mengatasi kelangkaan atau krisis air bersih. Selain sumber mata air yang perlahan-lahan menyusut dan terancam hilang. Kendala yang dihadapi juga yakni lokasi sumber mata air sangat jauh dari permukiman warga.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perkim Kabupaten Bima, Taufik, S.T., M.T., kepada Suara NTB. Ia mengaku beberapa wilayah di Kabupaten Bima pihaknya kesulitan membangun sarana dan prasarana mengatasi krisis air bersih. “Ada beberapa wilayah yang berat kita bangun akses sarana dan prasarananya, seperti di Kecamatan Palibelo, Belo Donggo Wera termasuk Wawo,” katanya.

Iklan

Namun sejak tahun 2015 sampai dengan 2020 pihaknya telah menyelesaikan pembangunan sarana untuk mengatasi krisis air bersih sekitar 104 dari 191 Desa di Kabupaten Bima. “Yang baru diselesaikan baru 104 Desa sejak tahun 2015 sampai 2020 ini,” katanya.

Taufik menjelaskan, sarana dan prasarana yang dibangun mengatasi krisis air bersih dengan melakukan pengeboran. Kemudian sistem pipanisasi dengan memanfaatkan sumber mata air permukaan. “Hanya saja sekarang mata air permukaan sudah banyak yang hilang. Debit air dalam tanah juga semakin berkurang. Ini kendala yang kita hadapi sekarang,” katanya.

Ia mengaku terancam hilangnya mata air dipermukaan serta debit air berkurang lantaran disebabkan pepohonan di hutan yang banyak ditebang. Belum lagi pembukaan lahan untuk area pertanian. Bahkan Taufik mengaku tiga sumber mata air di wilayah Kecamatan Wawo kini perlahan-lahan debitnya mulai menyusut. Bahkan diprakirakan dua atau tiga tahun kedepan akan hilang.

“Kalau tidak dicegah pembalakan liar dan pembukaan lahan kemungkinan sumber mata air akan hilang,” ujarnya.

Sementara di wilayah Kecamatan Donggo untuk menemukan sumber mata air harus menempuh jarak antara 14 hingga 20 kilometer. Untuk mengelolanya dan memanfaatkan tidak sedikit anggaran yang dikeluarkan. “Mengelola sumber mata air di wilayah Kecamatan butuh anggaran miliaran, karena jaraknya yang cukup jauh,” katanya.

Ia menegaskan kalau sumber mata air yang tersisa itu tidak dimanfaatkan, tidak menutup kemungkinan nantinya akan hilang. Sebab pembalakan liar dan pembukaan lahan baru masif terjadi di wilayah Kecamatan Donggo. “Sumber mata air di Donggo memang masih ada. Tapi kondisinya menipis dan tidak menutup kemungkinan akan hilang,” ujarnya.

Untuk itu, Taufik mengajak masyarakat agar menjaga bersama sumber mata air yang ada. Nantinya bisa dibangun sarana dan prasarananya secara bertahap dan hasilnya nanti bisa dimanfaatkan bersama. “Sumber mata air harus tetap dijaga. Kalau tidak akan hilang. Air sangat dibutuhkan bahkan tidak bisa digantikan dengan apapun,” pungkasnya. (uki)