Asita NTB Catat Penurunan Wisatawan hingga 80 Persen

Pasar Seni Sesela yang tampak sepi pengunjung. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB)Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) NTB mencatat penurunan tamu atau wisatawan yang berkunjung ke daerah ini 60-80 persen pada Januari – Februari 2019. Selain memasuki low season, dampak mahalnya harga tiket pesawat dan bagasi berbayar turut berpengaruh pada penurunan drastis kunjungan wisatawan ke NTB.

‘’Selain musim low season, yang pasti ada penurunan dibanding tahun lalu di bulan yang sama. Salah satu dampak harga tiket dan bagasi berbayar. Kisarannya 60-80 persen,’’ sebut Ketua DPD Asita NTB, Dewantoro Umbu Joka ketika dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 21 Februari 2019.

Iklan

Dewantoro tak menyebutkan jumlahnya secara kuantitas. Tetapi, ia menyebut secara persentase terjadi penurunan tamu hingga 80 persen dibandingkan periode yang sama bulan yang sama tahun lalu. ‘’Coba liat okupansi hotel saja di bawah 10 persen,’’ katanya.

Pihaknya berharap mulai Maret mendatang angka kunjungan wisatawan ke NTB kembali normal. Menurutnya, selain perlu ada kebijakan penurunan harga tiket. Perlu juga diperbanyak event-event di NTB.

Berdasarkan data BPS, angka kunjungan wisatawan mancanegara pada bulan Januari dan Februari tiga tahun terakhir fluktuatif. Pada Januari dan Februari 2016, angka kunjungan wisatawan mancenagara sebesar 5.162 orang dan 6.184 orang. Kemudian pada Januari dan Februari 2017 melonjak tajam sebesar 9.371 orang dan 8.740 orang. Pada Januari dan Februari 2018 turun menjadi 5.535 orang dan 5.800 orang.

Dampak kenaikan harga tiket pesawat dan bagasi berbayar dirasakan juga pelaku industri Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) dan pusat oleh-oleh atau UMKM yang bergerak dalam sektor pariwisata. Omzet UMKM turun hingga 60 persen.

Ketua DPD Indonesia Congress and Convention Association (INCCA)  NTB, M. Nur Haedin mengatakan dalam beberapa tahun terakhir industri MICE di NTB cukup berkembang.  Kemudian sekarang terpukul akibat kenaikan harga tiket dan bagasi berbayar.

Jumlah hotel yang memiliki ballroom di Lombok sebanyak 20 hotel. Kegiatan meeting yang dilakukan pemerintah di perhotelan rata-rata 800 rapat. Jika dikalikan dengan jumlah hotel yang memiliki ballrom, maka sekitar 16.000 rapat. Belum lagi event-event yang dilaksanakan di NTB sekitar 200 event setahun.

‘’Kalau sekarang,  ruang-ruang meeting 75 persen kosong. Karena kami yang menjual paket MICE ini,’’ ungkapnya.

Secara nasional INCCA sudah meminta pemerintah memperhatikan dampak kenaikan harga tiket dan bagasi berbayar tersebut. Akibat mahalnya harga tiket dan bagasi berbayar, wisatawan atau tamu luar daerah  yang sebelumnya merencanakan berlibur dan menggelar pertemuan di Lombok akhirnya membatalkan. Karena mereka membandingkan harga tiket ke Lombok dengan daerah lainnya di Indonesia.

‘’Kalau ndak ke Bali, ke Yogyakarta, Surabaya. Bahkan yang mengejutkan dengan menggunakan Lion, mereka bisa berlibur lebih murah ke Kuala Lumpur dan Singapura,’’ katanya. Saat ini, memang dalam masa low season sampai Maret mendatang. Sehingga wisatawan yang berkunjung juga tidak banyak.

Menanggapi hal ini, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah,SE, M. Sc menyatakan sudah berbicara dengan sejumlah menajemen maskapai penerbangan dan menteri terkait keluhan mahalnya harga tiket pesawat dan bagasi berbayar. Ia mengatakan penurunan harga tiket dan masalah bagasi berbayar merupakan domain masing-masing maskapai penerbangan.

‘’Kita sudah bicara dengan manajemen Lion, manajemen Garuda, kemudian Menko Perekonomian, Menteri Perhubungan dan lain-lain. Pokoknya ini bukan hanya masalah di NTB tapi juga di seluruh Indonesia,’’ kata gubernur.

Dari hasil pembicaraan yang dilakukan, rata-rata maskapai penerbangan berjanji akan menyesuaikan harga tiket pesawat. Gubernur yang akrab disapa Dr. Zul ini mengatakan mahalnya harga tiket bukan saja terjadi di NTB. Tetapi juga daerah lain di Indonesia.

Dampak mahalnya harga tiket dan bagasi berbayar berpengaruh terhadap sektor pariwisata NTB. Dr. Zul tak memungkiri  turunnya omzet UMKM dampak dari kenaikan harga tiket. Apalagi dengan penerapan bagasi berbayar.

‘’Wajar juga. Apalagi ada kenaikan bagasi berbayar. Tapi kalau airlinenya rugi-rugi terus bagaimana? Jadi ndak bisa satu sisi saja dilihat,’’ katanya.

Dr. Zul mengatakan, saat ini Pemerintah Pusat dan maskapai penerbangan sedang mencari solusi terbaik kaitan dengan masalah ini.  ‘’Karena mereka tak mau gulung tikar juga. Kalau maskapainya gulung tikar, yang rugi kita semua,’’ tandasnya. (nas)