Aset Besar Daerah, DPR Ajak Jaga Nama Baik Bank NTB Syariah

H. Kukuh Raharjo (tengah), bersama Ketua Komisi III DPRD Provinsi NTB, Sembirang Ahmadi (kiri) dan salah satu Direktur Bank NTB Syariah, Usman.(Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Ketua Komisi III DPRD Provinsi NTB, Sembirang Ahmadi mengajak insan pers, seluruh masyarakat untuk bersama – sama menjaga Bank NTB Syariah sebagai aset berharga daerah. Ajakan ini disampaikan Sembirang saat berdiskusi dengan wartawan dan direksi Bank NTB Syariah di Mataram.

Menurutnya, Bank NTB Syariah adalah satu-satunya lembaga keuangan terbesar yang dimiliki masyarakat NTB. Pascakonversi penuh dari konvensional ke syariah pada tahun 2018 lalu, di bawah pengelolaan Direktur Utama, H. Kukuh Raharjo, progresnya menunjukkan perkembangan yang cukup baik di tengah kondisi yang tidak mudah dan pesimisme banyak orang sebelumnya.

Iklan

“Sebagai bank syariah, bank syariah kita usianya sangat muda sekali. Tetapi di Indonesia, hanya ada dua BPD syariah, BPD Aceh dan Bank NTB Syariah. Dan dari dua BPD Syariah ini, pertumbuhan yang paling bagus adalah Bank NTB Syariah menurut penilaian OJK (Otoritas Jasa Keuangan),” ujarnya. Bank NTB Syariah, menurut Sembirang, sudah sangat dipercaya oleh publik. Indikatornya, banyak dana pihak ketiga (DPK) berupa tabungan dan deposito yang masuk ke Bank NTB Syariah.

Sementara Direktur Utama Bank NTB Syariah, H. Kukuh Raharjo mengatakan, dalam kurun waktu 2,5 tahun bank berkonversi ke syariah penuh, ada pembeda yang bisa dilihat pada Bank NTB Syariah sekarang. Bank daerah ini menurutnya sangat berbeda dengan Bank Umum Syariah lainnya. Perbedaan itulah yang membuatnya menjadi tantangan ke depannya.

Pertama, bersifat homogen. Dari hampir sebagian besar karyawannya merupakan putra-putri NTB. Berbeda dengan bank – bank nasional lainnya yang heterogenitas pegawainya sangat besar. Selain itu, banyak tantangan menjadi Bank NTB Syariah menjadi unggulan di negerinya sendiri. Dulunya dikenal produknya tidak kompetitif. Teknologinya jauh dari kebutuhan masyarakat. Infrastrukturnya relatif tidak berkembang dan SDMnya yang harus dibuat lebih berdaya saing.

“Empat hal ini kita challenge untuk kita lakukan satu perubahan. Makanya dalam satu perubahan ini tidak seperti membalikkan telapak tangan. Butuh waktu, butuh proses. Dan harus didukung semua pihak,” ujarnya. Dalam 2,5 tahun terakhir ini, seperti disampaikan OJK, pertumbuhan di NTB adalah yang terbesar. Jauh di atas nasional, jauh di atas regional, dan jauh pertumbuhannya di atas industri.

“Sehingga sayang, pada momentum pertumbuhan Bank NTB Syariah yang baik ini, menjadi kurang optimal karena adanya berita-berita yang belum sejalan dengan keinginan kita bersama untuk menjadikan bank daerah ini besar,” imbuhnya. Banker bank nasional sejak tahun 1991 ini menambahkan, saat ini Bank NTB Syariah terus menyetarakan diri dengan bank-bank nasional. Misalnya, aset yang sebelumnya Rp7 triliun saat berkonversi, naik menjadi Rp11,4 triliun saat ini.

Dulunya bank daerah yang jarang dikenal oleh para pengusaha karena bank fokus kepada ASN dan Pemda, kini semua pengusaha-pengusaha lokal sudah kembali berbank NTB Syariah. “Kita rubah sekarang, kinerja kita sama dengan bank nasional. Teknologi kita juga sudah punya mobile banking. Ini menjadi salah satu tools nasabah lebih mudah bertransaksi. Oleh karena ini, mari kita jaga bank kita ini sebagai bank yang kita cintai karena bank milik kita bersama di NTB,” demikian H. Kukuh. (bul)

Advertisement ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional