Aset Bank di NTB Naik Menjadi Rp Rp62 Triliun

Rico Rinaldy. (Suara NTB/bul)

Praya (Suara NTB) – Memasuki dua tahun pandemi Covid-19, kinerja jasa keuangan di NTB masih tercermin cukup positif. Aset bank secara umum mengalami kenaikan, hingga menjadi Rp62 triliun. Seperti dijelaskan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB, Rico Rinaldy dalam diskusi dengan wartawan di KEK Mandalika, Kamis, 16 September 2021.

Kinerja bank per Juli 2021, kinerja seluruh bank umum di NTB posisinya meningkat. Aset bank pada Juli 2021 ini menjadi Rp62 triliun (bank umum konvensional dan syariah), dibanding dengan posisi yang sama tahun 2020 lalu, asset bank ini mengalami kenaikan sebesar 8,75 persen. “Berarti, trennya masih positif, meskipun Covid-19,” katanya.

Iklan

Sementara itu, kredit yang disalurkan perbankan sampai pada Juli 2021 ini mengalami pertumbuhan 7,47 persen atau senilai Rp54,22 triliun. “Raport bank masih positif, walaupun Covid,” imbuhnya. Sementara DPK (Dana Pihak Ketiga) berupa tabungan masyarakat di keseluruhan bank di Nusa Tenggara Barat, baik yang konvensional maupun syariah, nilainya mencapai Rp37 triliun. Jika dibandingkan pada periode yang sama tahun 2020 lalu, kata Rico, mengalami kenaikan sebesar 16,33 persen.

“Berarti saat pandemi , banyak sekali orang menabung,” jelas Rico. Perkembangan kredit perbankan berdasarkan sektornya, dari kredit yang disalurkan bank sebesar Rp54,422 triliun tahun 2021 ini, terbesar penyalurannya kepada sektor penerima kredit bukan lapangan usaha sebesar Rp23,713 triliun. Pertambangan dan penggalian sebesar Rp11,163 triliun (-1,00 % YOY), perdagangan besar dan eceran Rp10,913 triliun. Lalu pertanian perburuan dan kehutanan sebesar Rp3,069 triliun. Penyediaan akomodasi makan minum Rp1,352 triliun.

Lalu konstruksi Rp1,072 triliun (-0,12% YTD), industri pengolahan Rp956 miliar. Jasa kemasyarakatan sosial budaya hiburan dan perorangan lainnya sebesar Rp671 miliar (-14,06% YOY dan – 9,12% YTD). real estate usaha persewaaan dan jasa perusahaan sebesar Rp557 miliar (-5,59%YOY dan -6,17% YTD).  sementara transportasi pergudangan Rp298 miliar (-2,20% YOY dan – 1,81% YTD). perikanan Rp200 miliar, jasa kesehatan dan kegiatan sosial Rp177 miliar (-12% YOY).

Selanjutnya, kegiatan yang belum jelas batasannya Rp94 miliar (-45% YOY dan -34,90% YTD). Jasa perorangan yang melayani rumah tangga Rp61 miliar. jasa pendidikan Rp57 miliar (-36,59%), perantara keuangan Rp41 miliar, listrik gas dan air Rp14 miliar (-9,20% YOY dan -3,08% YTD). dan administrasi pemerintahan pertahanan dan jaminan sosial Rp1 miliar (-98,77% YOY dan -13,15% YTD).

Sementara kredit bermasaah (NPL =  Non Performing Loan)  sebesar 1,52 persen dari total kredit, atau di kisaran Rp750 miliar. masih sangat kecil menurut Rico. Tingkat kepatuhan nasabah di NTB membayar cicilannya masih tinggi. (bul)

Advertisement