Asesmen Nasional Dorong Lahirkan Profil Pelajar Pancasila

Sahnan (Suara NTB/dys)

Mataram (Suara NTB) – Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Barat (Lobar) – Mataram, Sahnan, M.Pd., mengklaim pelaksanaan Asasmen Nasional (AN) sebagai pengganti Ujian Nasional akan mampu mendorong lahirnya Profil Pelajar Pancasila.

Profil Pelajar Pancasila merupakan impian agar generasi penerus bangsa Indonesia ke depan memiliki sikap yang sama dengan apa yang terkandung di dalam nilai-nilai luhur Pancasila.

Iklan

“Survei karakter diharapkan lahir Profil Pelajar Pancasila. Masalah belajar itu tidak hanya soal kognitif tetapi juga soal perilaku siswa tidak hanya di dalam sekolah tapi juga di luar sekolah punya akhlak yang baik bernalar kritis bisa disikapi persoalan mampu diurai, memiliki sikap gotong royong,” ungkapnya, Kamis, 21 Januari 2021.

Dikatakannya, ada tiga instrumen AN yaitu meliputi asasmen kompetensi minmum yakni untuk mengukur literasi membaca dan numerasi sebagai hasil belajar kognitif. Survei karakter untuk mengukur sikap, kebiasaan, nilai-nilai sebagai hasil belajar kognitif, dan survei lingkungan belajar untuk mengukur kualitas pembelajaran dan iklim pembelajaran yang diciptakan di sekolah.

“AN merupakan program penilaian pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah madrasah dan program keseteraan. Kami simpulkan bahwa UN itu tidak dihapus, tetapi dibekukan. Sesuatu yang dibekukan setiap saat bisa saja dicairkan,” jelasnya.

Pada aspek literasi, diukur kemampuan membaca siswa. Tujuannya untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu dan warga Indonesia.  “Yang jelas kemampuan anak-anak kita rendah di dalam menganalisis berpikir kritis dan sebagainya,” sebutnya.

Sementara aspek numerasi ialah untuk mengukur kemampuan berpikir siswa menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks.

Dikatakan Sahnan bahwa munculnya AN mengingat hasil survei beberapa lembaga, menunjukkan hasil belajar siswa masih sangat rendah. Kemampuan anak didik dalam literasi membaca hanya 70 persen berada di bawah kompetensi minimum. Begitu pun dengan kemampuan matematika hanya sebesar 71 persen di bawah kompetensi minimum. Sementara bangsa Indonesia berada di rangking 72 dari 77 negara yang disurvei.

Instrumen lain dijelaskan Sahnan bahwa survei lingkungan belajar yang ingin dilihat dalam AN ialah bagaimana iklim keamanan di dalam sekolah, sikap, dan keyakinan guru, kebijakan dan program sekolah apakah sudah mendukung tidak untuk mengarahkan situasi dan kondisi, sehingga melahirkan kondisi kondusif di sekolah.

“Kemudian terwujudnya iklim kebhinnekaan di sekolah, sehingga tidak ada lagi bullying, terbangunnya praktik multikultural. Sehingga kita ingin pastikan hal itu tidak terjadi di sekolah,” ujarnya. (dys)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional