Arisan Ibu-ibu Berujung Penjara

Penyidik Unit PPA Satreskrim Polresta Mataram menuntun tersangka penganiayaan Elen (kiri), Jumat, 23 Oktober 2020.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Arisan online ibu-ibu muda menyeret Elen (23) ke penjara. Niatnya, ibu beranak satu ini mau menagih setoran. Wanita asal Abiantubuh Utara, Abiantubuh, Cakranegara, Mataram ini malah mendapat makian. Perkelahian antaribu-ibu tak terhindarkan. “Pelaku berkelahi. Korbannya ini wanita. Pelaku memukul sampai mata korban lebam,” ungkap Kasatreskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa, Jumat, 23 Oktober 2020.

Pangkal kejadiannya, Elen yang pernah bekerja menjadi pemandu lagu ini mendatangi KD (50). Ihwalnya ingin menanyakan putri KD terkait setoran arisan. Maklum, putri KD ini sepekan sebelumnya sudah mendapat giliran dapat arisan. Elen mengira anak KD kabur demi mangkir dari membayar setoran arisan. KD pun bereaksi. Bahkan ucapannya lebih menyakiti hati Elen. Pada intinya terkait dengan asal-usul anak Elen yang kini baru berumur 10 bulan. “Ada perkataan kasar korban yang tidak bisa diterima pelaku,” kata Kadek Adi.

Iklan

Cekcok antarwanita ini makin memanas. Bukan lagi adu mulut. Mereka lalu adu otot. Mulai dari mencakar, menjambak, sampai saling pukul. Leher dan wajah jadi sasaran. Elen yang lebih muda mendaratkan pukulan tepat di mata korban. Daripada membalas, KD lebih memilih lapor polisi. Elen akhirnya dijemput Unit PPA Satreskrim Polresta Mataram. Atas dugaan pelanggaran pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan. Ancaman penjaranya paling lama dua tahun delapan bulan.

Elen masih emosi ketika ditanyai soal asal-usul persoalannya. Bahkan dia juga merasa dia juga korban penganiayaan. Sebab mereka berkelahi. “Di sana kan kampungnya dia. Ndak ada saksi yang mau membela saya,” ujarnya sambil berlalu ke ruang tahanan. (why)