Aplikator Tak Siap Sediakan Panel

Pekerja tengah menggali pondasi pembangunan rumah instans konvensional di Lingkungan Pengempel Indah, Jumat, 14 Desember 2018. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Rumah instan sederhana sehat (Risha) yang telah terbangun pascagempa Agustus lalu baru 39 unit. Permasalahannya sama sejak awal. Aplikator tak siap menyediakan atribut seperti panel dan baut.

Pejabat Pembuat Komitmen Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang juga Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Mataram Ahmad Muzzaki mengatakan, pihaknya sedang mempercepat pembentukan kelompok masyarakat (Pokmas) khusus rumah rusak kategori ringan dan sedang.

Iklan

Namun diakui, percepatan pembangunan Risha terkendala ketidaksiapan aplikator menyediakan aksesoris seperti panel dan baut. “Kalau Riko jalan terus,” kata Muzzaki, Jumat, 14 Desember 2018.

Pascamasa transisi tanggap darurat sejak September lalu berakhir. Zaki sapaan akrabnya menyebutkan, Risha yang telah terbangun mencapai 39 unit. Dalam proses pembangunan 230 unit. Dan, rumah instans konvensional 61 telah dikerjakan yang terdiri 129 Pokmas dari target 160 lebih Pokmas.

“Dari keseluruhan tujuh kabupaten/kota di NTB. Kota Mataram tinggi terbangun rumah. Kabupaten lain di bawah itu,” ujarnya. Pembentukan Pokmas akan berpengaruh ke penyerapan anggaran. Data terakhir disampaikan Zakki, penyerapan keuangan mencapai 40 persen lebih dari total anggaran yang telah didistribusikan oleh pemerintah pusat sebesar Rp100 miliar lebih.

Saat ini, sedang proses menunggu data bermasalah di lapangan untuk divalidasi. Khusus pembangunan Risha kembali disampaikan Zakki, terkendala penyiapan aksesoris oleh aplikator. Pokmas tidak bisa membeli bahan sendiri karena menyalahi aturan.

“Kita mau beli tapi tidak boleh sesuai aturan,” tambahnya. Penumpukan panel yang menumpuk di masyarakat tidak mungkin bisa dibangun sementara bautnya tidak ada,” terangnya.

Saat ini, pemerintah daerah dalam posisi menunggu. Ketergantungan pada aplikator menghambat percepatan pembangunan Risha. Oleh karena itu, disiasati dengan menggenjot membangun Riko sambil mencari aplikator yang siap secara keseluruhan.

Diakui, pembangunan Risha maupun Riko ditargetkan oleh Wakil Presiden H. Jusuf Kalla tuntas hingga Bulan Maret 2019 mendatang. Zakki mengharapkan, aplikator yang telah ditunjuk dan menjalin kerjasama dengan Pokmas menyediakan lengkap aksesoris dibutuhkan oleh masyarakat.

Sampai kapan masyarakat bisa tinggal di pengungsian? Masyarakat memang masih ada yang tinggal di tenda pengungsian. Tenda pengungsian milik warga ada yang robek, sehingga BPBD mengganti. Termasuk memberikan bantuan makanan. “Selama stok ada di BPBD kita distribusikan ke masyarakat,” ujarnya. (cem)