Aplikator Nakal di Lobar Jadi Buronan Aparat

Pengerjaan RTG di wilayah Gunungsari ini mandek akibat dana bantuan dibawa kabur oknum aplikator nakal. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Sejumlah oknum aplikator yang membawa kabur dana bantuan gempa ditetapkan jadi buronan aparat atau daftar pencarian orang (DPO). Aplikator nakal ini telah dilaporkan ke kepolisian. Saat ini pihak kepolisian bersama TNI tengah memburu aplikator nakal tersebut. Selain aplikator nakal, oknum fasilitator nakal yang diduga mengambil dana aplikator juga diusut. Para oknum ini diminta segera mengembalikan dana bantuan tersebut kepada masyarakat.

“Oknum aplikator yang nakal ini sudah masuk buronan atau DPO polisi, ini dalam tahap penyelidikan,” tegas Dandim 1606 Lobar, Kolonel Czi Efrijon Kroll ditemui usai rapat Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascagempa di Gedung Budaya Narmada, Senin,  23 September 2019.

Pihaknya sudah mengidentifikasi ada 3 laporan aplikator nakal. Bahkan ada yang hingga melarikan diri ke Medan.  “Yang kabur kita cari, yang ada supaya bertanggung jawab menyelesaikan perkerjaannya,” tegasnya.

Ditegaskan, masalah aplikator nakal ini sudah masuk dan sudah ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian. Selain aplikator nakal, pihaknya juga mendapatkan laporan ada oknum fasilitator yang mengambil dana aplikator. Pihaknya menindaklanjuti laporan ini dengan meminta agar fasilitator segera mengembalikan dana tersebut. Pihaknya akan memediasi antara fasiliatator,  pokmas dengan aplikator agar segera menyelesaikan persoalan ini. Oknum aplikator dan fasilitator nakal ini diminta bertanggung jawab mengembalikan dana bantuan tersebut, sehingga persoalan inipun selesai. Namun kalau tidak bertanggung jawab, maka persoalan ini akan dilanjutkan ke ranah hukum. “Aplikator, fasilitator dan pokmas harus bertanggung jawab mengembalikan. Kalau ndak, kita akan tuntut secara hukum,” tegas dia.

Bupati Lobar, H Fauzan Khalid menegaskan aplikator nakal harus ditindaktegas secara hukum untuk memberikan efek jera. Pihaknya meminta aparat menangkap aplikator nakal ini, sebab dana yang dibawa kabur adalah hak korban gempa. “Memang harus digituin (ditangkap) supaya jera,”tegas dia.

Ia menegaskan, apliktor nakal ini sudah teridentifikasi dan beberapa sudah masuk buronan polisi alias DPO, sehingga aplikator, fasilitator yang ada saat ini diharapkan tidak melakukan tindakan serupa. Karena itulah, kata dia, pihaknya bersama Dandim mengumpulkan mereka semua untuk membuat komitmen bersama kedepan.

Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman Lobar, H. L. Winengan menegaskan aplikator nakal ini sudah masuk buronan aparat. Bahkan pihak TNI ingin segera menangkap aplikator nakal tersebut. “Mau siapa saja yang terlibat kita tangkap, mau pokmas, fasilitator, aplikator, dan aparatur Pemda bahkan aparat TNI, Polri kita proses,” tegas dia.

Dari laporan yang diterimanya, oknum aplikator dan fasilitator nakal yang diduga membawa kabur dana bantuan pembangunan rumah korban gempa. Dana bantuan yang dibawa kabur sangat besar, mencapai Rp 1 miliar lebih. Pihak Disperkim pun mengancam akan melaporkan oknum fasilitator dan aplikator ke aparat berwajib. Disperkim sendiri telah berkoordinasi dengan Dandim untuk mencari para oknum tersebut. Saat ini para pelaku tengah diincar oleh aparat dalam hal ini TNI.  (her)