APH Usulkan Ganti Nama Kecamatan Batulayar Jadi Senggigi

Diskusi Asosiasi Pengusaha Hiburan (APH) dengan BPD dan pegiat lingkungan membahas usulan penggantian nama kecamatan Batulayar menjadi Senggigi. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Sebagai salah satu destinasi wisata ternama di daerah Lombok Barat, kawasan Senggigi sudah dikenal tidak saja di regional, nasional bahkan hingga luar negeri. Untuk lebih menggaungkan kawasan wisata yang masih belum normal dampak pandemi ini. Serta memudahkan akses program bantuan baik dari Provinsi maupun Pusat, para pelaku usaha hiburan menginisiasi agar Senggigi menjadi nama kecamatan.

Para pelaku usaha sepakat akan mengusulkan nama Kecamatan Batulayar diubah menjadi Kecamatan Senggigi. Artinya status nama desa ini dinaikkan menjadi nama kecamatan. Demikian mengemuka dalam diskusi kecil yang dilakukan Ketua Asiosiasi Pengusaha Hiburan (APH) Lobar, Suhermanto bersama para pelaku usaha lain seperti Owner Kedaton Soedarsono dan Sakinah dari Lombok Ocean Care (LOC) serta BPD Desa Batulayar Barat usai kegiatan clean up (aksi bersih-bersih) di kawasan Senggigi, Sabtu, 24 Oktober 2020. Ketua APH Suhermanto mengatakan sudah saatnya nama desa Senggigi ditingkatkan menjadi kecamatan. Artinya nama kecamatan Batulayar diganti menjadi kecamatan Senggigi.

Iklan

Alasan kenapa perlu diubah nama kecamatan? Karena atas dasar untuk lebih memajukan pariwisata dan menggaungkan Senggigi di tengah kondisi saat ini. Di luar sana, kata dia, para pengusaha dan pengunjung kurang mengenal nama Batulayar. Justru yang lebih banyak dikenal adalah nama Senggigi. Dihawatirkan jika tetap menggunakan nama Batulayar, justru mengakibatkan Senggigi akan lebih tenggelam. Apalagi dengan adanya program pembangunan kawasan sepeda internasional di Meninting oleh Pemerintah Provinsi. Pihaknya tak ingin munculnya kawasan ini justru menjadi pesaing di dalam kawasan sendiri. “Sehingga nama Senggigi akan tenggelam. Karena itu, bentuk upaya proteksi nama Senggigi ini perlu menjadi kecamatan membawahi semua desa di Batulayar,”jelas dia.

Selain itu, erkait masalah program bantuan. Karena sejauh ini bantuan ke kawasan Senggigi tak terlihat karena statusnya hanya nama desa. Bahkan, ada para pengusaha yang ingin membawa bantuan dan program ke Senggigi, namun ketika diklik nama Senggigi hanya sebagai desa sehingga kurang prioritas. Dari sisi daya jual, nama Senggigi lebih bisa dijual daripada Batulayar. Menurut dia, secara tidak langsung juga administrasi nama daerah ini keliru, karena banyak orang luar tersesat. Karena daerah yang dituju Senggigi, tetapi tidak masuk daerah Senggigi. Contohnya, dirinya yang memiliki usaha di Melase dan Batulayar, tak bisa menggunakan nama Senggigi karena secara administrasi desanya berbeda. Sehingga hal ini membingungkan dan menyulitkan pengusaha.

Di satu sisi pemda tengah merancang program Destination Management Organization (DMO) Senggigi. Nama DMO ini lagi-lagi akan menjadi perdebatan apakah menggunakan Batulayar atau Senggigi. Sebab jika menggunakan nama DMO Senggigi, justru khawatirnya ada ketidaksesuaian wilayah yang akan di-DMO- kan. Karena DMO ini spesifik menyebut Senggigi. “Dan ini kan nama desa, tapi kalau menggunakan kecamatan Senggigi maka akan mencakup semua wilayah,”jelas dia. Perihal usulan ini sudah disampaikan secara tidak resmi ke bupati. Respons bupati pun bagus. Hanya saja, bupati tidak bisa memutuskan sendiri karena perlu juga ada usulan dari masyarakat. Entah itu dari pengusaha, dan warga setempat.

Nantinya untuk usulan perubahan nama kecamatan ini akan didiskusikan dengan para pengusaha hiburan lebih dulu barulah ke pengusaha lainnya. Ia meyakini jika masyarakat kompak mengusulkan, tidak ada alasan dari pemda untuk tidak menyetujui.

Sementara, Ketua BPD Batulayar Barat, Kasirim mengaku mendukung penggantian nama kecamatan ini menjadi kecamatan Senggigi. Hanya saja prosesnya panjang, karena perlu sosialisasi dengan para tokoh masyarakat, tokoh agama dan para pihak terkait. (her)