APH Minta Buruh PT. SMS Tak Terpancing Tolak UU Cipta Kerja

Kapolres Dompu, Syarif Hidayat bersama Dandim 1614/Dompu, Ali Cahyono, saat bersilaturahmi dengan buruh PT. SMS di Kecamatan Pekat, Sabtu, 17 Oktober 2020. (Suara NTB/Jun)

Dompu (Suara NTB) – Menyikapi gelombang penolakan mahasiswa dan buruh atas pengesahan Undang-undang Cipta Kerja sebulan terakhir, aparat gabungan TNI-Polri terus menggiatkan penggalangan. Kali ini, Sabtu 17 Oktober 2020 menyasar perwakilan buruh PT. SMS dan tokoh masyarakat di Kecamatan Pekat. Harapannya, mereka tidak terpancing menggelar aksi penolakan terkait peraturan tersebut.

Kapolres Dompu, AKBP. Syarif Hidayat, SH., S. IK., dalam pertemuan itu menjelaskan, kedatangannya bersama jajaran TNI tidak lain untuk menjaga silaturahmi dengan masyarakat.

Iklan

Jika melihat perkembangan situasi daerah di seluruh penjuru Indonesia, mahasiswa dan buruh tengah mempersoalkan Undang-undang Cipta Kerja. Mereka bahkan sampai menggelar aksi demonstrasi yang berujung anarkis. “Permasalahan ini sudah ada yang mengurus dan menilai. Kita jangan sampai terpancing,” harapnya.

Terhadap apa yang sudah diperjuangkan mahasiswa dan buruh, khususnya di DPRD Dompu cukuplah didoakan. Jangan sampai buruh PT. SMS terprofokasi, apalagi sampai ikut-ikutan aksi penolakan.

Kalaupun ada sesuatu hal yang dirasa mengganjal, sampaikan dengan baik tanpa menggunakan kekerasan. “Saya berbicara seperti ini bukan karena PT. SMS keluarga saya, tetapi tugas kami untuk melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat,” tegasnya.

Di tengah rencana pemerintah menjadikan beberapa desa di kecamatan ini sebagai pusat pengembangan Porang, Syarif Hidayat mengingatkan, agar buruh dan masyarakat tetap hidup berdampingan serta fokus mencari nafkah. Soal UU Cipta Kerja biarlah bergulir dengan sendirinya.

Selain menyangkut pengesahan aturan itu, tak kalah riskan kedepan yakni tahapan pemilihan kepala daerah pada 9 Desember. Perbedaan pilihan menjadi sesuatu yang wajar, sehingga tak perlu dipersoalkan. Apalagi oleh mereka yang masih memiliki hubungan kekeluargaan. “Jangankan orang lain, kelaurga sendiri saja bisa jadi musuh karena beda pilihan politik. Independen itu lebih baik asalkan tidak golput,” pungkasnya. (jun)