Apel HUT RI di Lokasi Pengungsian Tetap Khidmat Meski Pakai Sandal dan Sarung

Giri Menang (Suara NTB) – Korban gempa yang tinggal di lokasi pengungsian di Lombok Barat sepertinya tak mau ketinggalan merayakan hari ulang tahun kemerdekaan RI ke 73. Meski di lokasi pengungsian, korban gempa menggelar apel bendera memperingati detik-detik kemerdekaan yang berhasil diraih puluhan tahun silam. Mereka hanya menggunakan pakaian seadanya dan sandal, namun apel yang diadakan penuh sederhana tak mengurangi kekhidmatan. HUT RI ini menjadi momentum kebangkitan bagi korban gempa untuk bangkit memulihkan kondisi.

Pantauan koran ini di Lapangan Gunungsari, lokasi posko penampungan korban gempa. Tampak korban gempa mengenakan pakaian sederhana, ada yang memakai sarung bahkan mukenah berjejer membentuk barisan. Di depan mereka tertancap bambu menjulang setinggi 6 meter. Bambu ini dipakai untuk pengibaran bendera merah putih oleh petugas upacara.

Iklan

Petugas apel yang berasal dari siswa-siswi dari sekolah sekitar berbaris rapi menunggu aba-aba dari pemimpin upacara untuk memulai apel. Tak lama, suara lantang pemimpin upacara pun menggelegar memecah suasana di lapangan tersebut. Upacara pun dimulai. Secara bergantian, petugas upacara melaksanakan tugasnya. Suasana semakin haru dan khidmat ketika pasukan pengibar bendera merah putih mulai menaikkan bendera diiringi lagu Indonesia Raya. Semua peserta upacara menyanyikan lagu kebangsaan itu dengan penuh keharuan. Bahkan ada yang menitikkan air mata.

Menurut salah seorang pengungsi yang ikut upacara, warga ingin merayakan kemerdekaan dengan ikut apel. Bagi warga setempat, memang tak pernah apel merayakan HUT. Baru kali inilah ketika berada di pengungsian warga ikut apel. “ini pertama kali kami ikut apel perayaan HUT RI ini, sebelumnya kami ndak pernah. Ini sungguh mengharukan bagi kami di tengah kondisi bencana yang melanda kami. Tapi mudah-mudahan dengan HUT ini kami bangkit,” kata Eva warga Gunungsari.

Korban gempa di Senteluk kecamatan Batulayar juga menggelar apel di lokasi pengungsian. Ratusan warga yang mengungsi memadati lapangan di desa setempat untuk ikut apel. Mereka juga memakai pakai seadanya, karena rumah dan harta benda mereka hancur ditimpa bangunan.

Kades Senteluk Fuad Abdul Rahman mengimbau masyarakat tetap menjaga kebersamaan di tengah bencana yang melanda. Meskipun dilanda bencana, ia mengingatkan kepada warganya agar tidak lupa terhadap jasa pahlawan. “Kami juga tekankan agar HUT RI ini menjadi momentum bagi warga untuk bangkit dari bencana ini,”kata Fuad.

Sementara itu di wilayah Jeringo Kecamatan Gunungsari, ratusan anak murid di daerah setempat tidak bisa menggelar apel lantaran kondisi tak memungkinkan. Sekolah mereka rusak parah tak bisa ditempati lagi, pun dengan halaman sekolah dipakai untuk penampungan pengungsi, dapur umum dan  tempat pelayanan bagi korban gempa.

Menurut Dende Suci Ramdawati, salah seorang guru di Desa Jeringo, sejak dua pekan pascagempa sekolah di desa vakum sama sekali. Bahkan anak-anak pun tidak bisa menggelar apel perayaan HUT RI. (her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here