Aparat Kecolongan! Keluarga Ambil Paksa Jenazah Positif Covid-19 di RSUD Bima

Pihak keluarga membawa jenazah positif Covid-19 yang diambil paksa di RSUD Bima, Jumat, 7 Agustus 2020. (Suara NTB/Ist)

Kota Bima (Suara NTB) – Aksi pengambilan paksa jenazah positif Covid-19 terjadi di RSUD Bima, pada Jumat, 7 Agustus 2020. Pihak keluarga keberatan pasien inisial Rk (56 Tahun) warga Kelurahan Dodu Kecamatan Rasanae Timur Kota Bima dinyatakan terpapar dan dikubur dengan protokol Covid-19.

Petugas medis RSUD Bima sempat berupaya melarangnya. Hanya saja tidak digubris dan diindahkan oleh pihak keluarga pasien. Lolosnya pihak keluarga membawa pulang jenazah itu lantaran juga diduga tidak ada penjagaan aparat keamanan di RSUD setempat.

Iklan

Usai mengambil peti yang berisikan jenazah di ruang isolasi RSUD Bima, pihak keluarga langsung membawa pulang dengan menggunakan mobil box. Saat ini pasien berada di rumah dalan pengawasan pihak keluarga dan akan dikuburkan seperti pasien umum.

Informasi yang diperoleh Suara NTB pihak keluarga beralasan, pengambilan paksa jenazah tersebut lantaran pasien tidak terima dikuburkan dengan protap Covid-19, pasalnya yang bersangkutan juga hanya sakit sesak napas dan tidak terkait kasus positif Covid-19.

Menanggapi hal itu, Direktur RSUD Bima melalui Humas dr. M. Akbar membenarkan pengambilan paksa jenazah pasien Covid-19 yang berada di ruang isolasi tersebut, meskipun pihaknya sudah melarang dan sempat menghadangnya.

“Kita sempat larang, tapi pihak keluarga tetap ngotot membawa pulang. Mereka menolak jika pasien ini dikubur sesuai protap Covid-19,” katanya.

Akbar menjelaskan, semula pasien bernama Rk dibawa untuk diisiolasi di RSUD Bima lantaran dinyatakan reaktif berdasarkan tes cepat (rapid test). Selanjutnya sampel serumnya dikirim ke Laboratoirum untuk dilakukan swab test dan hasilnya yang bersangkutan dinyatakan positif Covid-19.

“Tapi sebelum dites cepat, Rk masuk ke RSUD Bima karena sesak nafas. Namun setelah sampel serumnya di swab, yang bersangkutan dinyatakan positif Covid-19. Hasil uji laboratorium Rk positif Covid-19,” tegasnya.

Terlepas dari itu Akbar sangat menyayangkan sikap pihak keluarga yang membawa pulang jenazah positif tersebut dan dikuburkan secara umum sangat tidak dibenarkan karena melanggar protap Covid-19.

Terpisah Juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Bima, Abdul Malik, SP, MM mengaku pihaknya menyikapi serius aksi pengambilan paksa jenazah positif Covid-19 tersebut, karena hal itu tidak bisa dibenarkan. Menurut Malik, pihaknya bersama aparat TNI/Polri akan memberikan pemahaman kepada pihak keluarga pasien.

“Kami akan memberikan edukasi kepada pihak keluarganya,agar pasien positif Covid-19 ini dikuburkan dengan Protap Covid-19,” katanya.

Disamping itu, pihaknya juga akan melacak kontak (tracking contact) terhadap keluarganya yang bersentuhan langsung dengan Rk. Bahkan pelacakan akan langsung dilakukan. Hal ini bertujuan sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 kepada warga lain.

“Aksi pengambilan paksa jenazah ini sangat membahayakan makanya perlu disikapi serius dan cepat agar tidak membahayakan warga lain,” katanya.

Malik menambahkan, Rk merupakan warga Kota Bima yang berdomisili di Kabupaten Sumbawa. Rk bersangkutan datang ke Kota Bima beberapa hari sebelum hari raya Idul Adha 1441 H. Awalnya yang bersangkutan mengeluhkan demam dan sesak napas.

“Karena adanya gejala ini, Rk dites cepat, hasilnya reaktif. Atas dasar inilah Rk di isolasi sejak Senin (3/8) hingga meninggal dunia Jumat, 7 Agustus 2020 yang bertepatan keluar hasil swab yang dinyatakan positif Covid-19,” pungkasnya. (uki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here