Antisipasi Perubahan Teknologi, Masifkan Persiapan SDM

Yustinus Habur (Ekbis NTB/dok)

Teknologi terus berubah setiap hari. Selalu ada temuan atau inovasi yang bisa membuat teknologi sebelumnya ketinggalan zaman atau tidak berfungsi. Bahkan, banyak teknologi yang hilang, karena tidak mampu mengantisipasi perubahan zaman. Begitu juga, pesatnya perkembangan teknologi juga berdampak pada hilangnya pekerjaan, karena sudah digantikan oleh tenaga kerja dari mesin.

Belakangan ini sejumlah perusahaan teknologi berusaha menciptakan robot atau tenaga mesin yang bisa mengerjakan apa yang dikerjakan manusia. Jika di bidang industri perakitan mobil atau sepeda motor, penggunaan tenaga mesin sudah lama dilakukan. Begitu juga di bidang kesehatan, pekerjaan untuk mengoperasi pasien juga sudah dilakukan oleh tenaga robot.

Iklan

Tidak hanya itu, perusahaan media juga menggunakan tenaga mesin untuk menggantikan pekerjaan manusia. Jika selama ini, orang berasumsi penyiar atau anchor (pembaca berita) tidak bisa digantikan oleh robot, ternyata sekarang ini sudah menjadi kenyataan.

Sebut saja salah satu saluran berita MBN di Korea Selatan. Dikutip dari detikinet.com, saluran  berita ini memperkenalkan penyiar berita berbasis artificial intelligence (AI). Sebagaimana layaknya manusia robot ini bisa berbicara, bahkan memperkenalkan dirinya. Termasuk bagaimana dia diciptakan dengan meniru salah satu pembaca berita di stasiun televisi tersebut. Robot yang diberi nama Al Kim ini, juga mampu meniru gerakan tubuh pembaca berita ini, termasuk nada bicaranya persis sama dengan manusia aslinya.

Ini baru satu contoh. Masih banyak contoh yang lain dan menggunakan teknologi canggih dalam kegiatan operasional perusahaan.

Untuk itu, seperti disampaikan Edy, salah satu warga Kota Mataram yang bekerja di sektor penyediaan jasa mengingatkan agar tenaga kerja yang ada sekarang ini harus mempersiapkan diri dengan baik, terutama yang berkaitan dengan aspek teknis dan penggunaan teknologi .

‘’Yang paling perlu dipikirkan oleh pemerintah yaitu peningkatan skill individu, kemampuan teknis tenaga kerja dan penggunaan teknologi,’’ kata Edy, salah seorang warga Kota Mataram yang bekerja di sektor penyediaan jasa.

Menurutnya, pemerintah tidak boleh lalai dalam penyediaan SDM yang berkualitas. Salah satu instrumen terpenting yaitu hadirnya sekolah vokasi dan pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK). Melalui lembaga pendidikan tersebut, pemerintah daerah bisa mencetak lulusan terampil di bidangnya masing-masing.

Di era revolusi industri 4.0 ini, tenaga manusia sudah berganti dengan mesin. Bahkan sudah berganti dengan sistem yang lebih canggih lagi yaitu berbasis digital dan robotik. Dengan demikian, kapasitas skill individu tenaga kerja memang harus disesuaikan dengan kemajuan teknologi tersebut.

‘’Kita tahu bersama kendaraan berbahan bakar fosil sudah mulai berganti dengan energi listrik. Selanjutnya banyak industri yang sudah menerapkan sistem digital untuk mengontrol proses produksi. Itu hanya contoh kecil betapa industri itu sudah mulai berubah. Tentu pemerintah harus memfasilitasi rakyatnya untuk berubah dan berbenah, ‘’ terangnya.

Ia melihat sektor pertanian di dalam daerah masih ada yang menggunakan tenaga manusia atau manual. Itu semua membutuhkan cost yang lebih tinggi untuk berproduksi. Ia menyarankan agar sektor pertanian mulai banyak menggunakan teknologi agar hasil produksi lebih maksimal.

‘’Zaman terus berganti, teknologi baru terus lahir. Kita harapkan masyarakat NTB mampu beradaptasi dengan semua kemajuan itu, tentunya dengan dibantu oleh pemerintah,’’ tutupnya.

Hal senada disampaikan Satria, salah satu tenaga pendidik di Dompu. Menurutnya, dalam menghadapi perubahan teknologi yang ada sekarang ini, tenaga kerja harus mempersiapkan diri dengan perubahan teknologi yang sangat ketat.

Jika semua nanti sudah ada perubahan dalam operasional perusahaan, yakni perusahaan menggunakan tenaga mesin untuk menggantikan tenaga manusia, maka tenaga kerja yang ada di perusahaan itu harus bisa mengoperasikannya. ‘’Kalau memang perusahaan itu gunakan robot, misalnya. Kita yang harus mengoperasikan robot itu,’’ sarannya.

Begitu juga pendapat Mawardi. Menurutnya, tenaga mesin atau robot diciptakan oleh manusia, maka keberadaan manusia saat perusahaan menggunakan tenaga robot tetap diperlukan. Dalam operasionalnya, mesin membutuhkan manusia untuk bisa berproduksi. Untuk itu, dalam menghadapi itu semua diperlukan keterampilan khusus oleh tenaga operatornya, sehingga tidak menjadi penonton saat mesin dipergunakan di perusahaan.  ‘’Mempersiapkan diri adalah hal yang penting saat robot atau tenaga mesin mulai dipergunakan,’’ sarannya.

Masifkan Persiapan SDM

Sementara Serika Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) NTB mengingatkan pemerintah daerah untuk mempersiapkan lebih dini Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada dalam rangka mengantisipasi membeludaknya pengangguran, karena ambil alih peran manusia oleh tenaga mesin.

Meski sejauh ini belum terlihat masif monopoli pekerjaan oleh tenaga mesin, Ketua Konfederasi SPSI Provinsi NTB, Yustinus Habur mengharapkan pemerintah dan tenaga kerja untuk lebih waspada.

Diakuinya, perkembangan teknologi yang menggantikan tenaga manusia tidaklah bisa dibendung. Yang bisa dilakukan adalah mengikuti perkembangan teknologi  dengan terus belajar, kreatif, fleksibel dan profesional. ‘’Dunia pendidikan juga harus terus berkembang sesuai tuntutan zaman,’’ ujarnya pada Ekbis NTB, Minggu, 13 Desember 2020.

Konsekuensi dari era 4.0 juga, tambahnya, adalah potensi pengangguran yang makin terus bertambah, karena beralihnya fungsi orang ke mesin. Tidak bisa dipungkiri hal itu. Karena itu, SPSI juga mendorong anggota agar terus mengikuti training yang diberikan oleh perusahaan, maupun pemerintah, sehingga tidak tertinggal perubahan zaman.

‘’Di hotel dan restoran misalnya, harus menyiapkan sumber daya manusia yang optimal. Jika tidak, perusahaan akan kalah bersaing dengan kompetitornya. Demikian juga di bidang-bidang pekerjaan lain. Pemerintah juga harus mulai masif mempersiapkan SDM lokal,’’ demikian Yustinus.

Tidak dapat dipungkiri, perlahan semua sudah beralih ke arah digital. Sehingga interaksi antara manusia dan teknologi sudah tidak terelakkan lagi. Semua pemenuhan kebutuhan kini sudah tersedia secara digital, mulai dari jual-beli, jasa, hingga transaksi pembayaran.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah membeberkan tentang era revolusi industri 4.0 ditandai dengan penggunaan teknologi digital yang akan berakibat banyak jenis usaha yang tidak berkembang bahkan hilang.

Industri padat karya bakal digantikan dengan mesin. Proses otomatisasi diperkirakan akan semakin masif dalam beberapa waktu ke depan. Seperti prediksi World Economic Forum (WEF), dengan laporan terbarunya memperkirakan akan ada 95 juta pekerjaan baru yang yang tumbuh bersamaan dengan 85 juta pekerja yang akan bergerak.

Apalagi setelah pandemi Corona ini, kemampuan yang banyak berhubungan dengan kemampuan manual dan tradisional pelan-pelan mulai berkurang jumlahnya. Revolusi Industri 4.0 ini mengintregasikan antara teknologi cyber dan teknologi otomatisasi. Dampak era revolusi industri 4.0 ini tentu sangat besar bagi dunia industri juga perilaku di masyarakat.

Dalam bidang industri, yang sebelumnya masih mengandalkan tenaga manusia dalam proses produksi barang. Namun saat ini barang dibuat secara massal dengan menggunakan mesin dan berteknologi canggih. Keadaan seperti ini dikenal sebagai revolusi industri 4.0. (ris/ham/bul)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional