Antisipasi Dampak La Nina

Sahdan (Suara NTB/dok)

PEMPROV NTB menetapkan status siaga darurat bencana banjir dan longsor enam bulan ke depan menyikapi dampak La Nina. Hujan lebat disertai angin kencang berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.

“Sekarang NTB berstatus siaga darurat banjir dan longsor. Makanya kita sudah melakukan apel siaga bencana bersama TNI/Polri dan instansi terkait pekan lalu,” kata Kepala Pelaksana BPBD NTB, H. Sahdan, S.T., M.T, dikonfirmasi Suara NTB, Minggu, 28 November 2021.

Iklan

Sahdan mengatakan status siaga darurat banjir dan longsor ditetapkan mulai November 2021 hingga April 2022 atau selama enam bulan. Kabupaten/kota di NTB juga telah dalam proses SK penetapan status siaga darurat oleh kepala daerah masing-masing.

“Karena rilis BMKG pada 2021 akan terjadi La Nina. Makanya mengantisipasi bahaya bencana alam hidrometeorologi,” terangnya.

Saat ini, kata Sahdan, sejumlah daerah di NTB telah dilanda banjir. Seperti Kota Bima, Sabtu (27/11). Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Kota Bima pada Sabtu (27/11), pukul 13.29 Wita menyebabkan debit air Sungai Kendo meluap. Sehingga menyebabkan 248 rumah warga terendam banjir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima melaporkan delapan kelurahan pada empat kecamatan terdampak banjir, antara lain Kelurahan Kendo, Ntobo dan Penaraga di Kecamatan Raba; Kelurahan Nungga di Kecamatan Rasanae Timur; Kelurahan Jatibaru Barat dan Melayu di Kecamatan Asakota serta; Kelurahan Na’e dan Sarae di Kecamatan Rasanae Barat. Banjir dengan tinggi muka air 10 sampai 40 sentimeter juga merendam satu hektar lahan pertanian.

Sahdan menjelaskan dampak banjir yang terjadi Kota Bima tak separah beberapa tahun lalu. Karena tiga jembatan yang dulunya tersumbat material dari hulu kini sudah diperbaiki. Sehingga aliran air banjir dari hulu tidak tersumbat.  Tiga kembatan yang sudah diperbaiki tersebut adalah  jembatan Padolo, Penatoi dan Rabasalo.

“Sehingga walaupun banjir besar, air tidak terhambat. Beberapa masyarakat yang dulu tinggal di bantaran sungai juga sudah direlokasi,” katanya.

Sahdan mengatakan tingginya potensi banjir di Kota Bima disebabkan kondisi daerah hulu yang rusak. Hutan yang berada di daerah hulu kondisinya terbuka, tidak ada lagi daerah yang tertutup. Sehingga begitu turun hujan, air  langsung mengalir ke sungai.

“Bagi masyarakat yang berada di daerah bantaran sungai untuk jangka panjang harus siap-siap pindah. Harus siap siaga menghadapi bencana yang akan timbul. Itu risiko bagi yang tinggal di daerah bantaran sungai,” tandasnya. (nas)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional