Antisipasi Banjir Rob, BPBD NTB Sarankan Warga Pinggir Pantai Direlokasi

Mataram (suarantb.com) – Mengantisipasi bencana banjir akibat air laut pasang atau banjir rob, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Mohammad Rum menyarankan agar warga yang tinggal di pinggir pantai direlokasi. Warga tidak lagi dibiarkan tinggal di daerah pantai yang berpotensi terkena banjir rob saat air pasang. Relokasi ini dikatakan Rum merupakan solusi permanen.

“Kalau pemerintah kabupaten bisa merelokasi warga, lebih bagus. Jadi mereka tetap kerja di sana, tapi mungkin tempat tinggalnya pindah,” ujarnya saat dihubungi suarantb.com melalui sambungan telepon, Senin, 4 Desember 2017.

Iklan

Relokasi warga ini, dikatakan Rum bisa dilakukan salah satunya dengan menyediakan rumah susun (rusun), jika lahan yang tersedia tidak cukup luas. Namun jika lahan yang tersedia cukup luas, menurutnya tidak perlu membuat rusun.

“Mungkin idealnya bangun rusun seperti itu, kalau mau relokasi. Tapi rusun itu kan kalau kita tidak punya lahan luas. Tapi kalau lahan luas, kenapa harus pakai rusun,” sahutnya.

Selain merelokasi warga, solusi lain yang ditawarkan BPBD NTB adalah membangun tanggul. Untuk mencegah air pasang masuk ke pemukiman warga.

Banjir rob pada Minggu malam, 3 Desember 2017 diketahui menerjang wilayah pesisir selatan Lombok Timur, tepatnya di Kecamatan Jerowaru dan Keruak. Sekitar 400 kepala keluarga (KK) dilaporkan terdampak banjir rob dan terpaksa mengungsi.

Meski termasuk terjadi tiap tahunnya, banjir rob Minggu malam diperparah karena adanya fenomena bulan purnama supermoon. Dimana posisi bulan dan matahari berada pada satu garis dengan bumi. Sehingga gaya gravitasi yang ditimbulkan lebih kuat, dan berakibat luapan air pasang. (ros)