Antara NTB Gelar Diskusi, Peran Media Perangi Informasi Hoaks di Tengah Masyarakat

0
Diskusi yang digelar LKBN Antara NTB dengan tema "Peran Media di Tengah Informasi Hoaks di Masyarakat" bertempat di Hotel Santika Mataram, Selasa (28/12) siang kemarin. (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Kantor Berita Antara NTB menggelar diskusi dengan tema “Peran Media di Tengah Informasi Hoaks di Masyarakat” bertempat di Hotel Santika Mataram, Selasa, 28 Desember 2021. Kegiatan yang dihadiri puluhan jurnalis dari berbagai media massa di NTB tersebut menghadirkan pemateri Pemeriksa Fakta Senior Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Dedy Helsyanto.

Kepala Biro LKBN Antara NTB, Riza Fahriza menjelaskan kegiatan yang dilaksanakan ini dalam rangkaian HUT Antara ke-84 yang jatuh pada 13 Desember 2021. “Kita menggelar ini untuk menyosialisasikan terkait dengan informasi hoaks. Karena begitu masifnya pemberitaan hoaks di masyarakat. Sehingga masyarakat lebih mempercayai media sosial,” kata Riza.

IKLAN

Riza mengatakan masyarakat cenderung mempercayai informasi dari media sosial dibandingkan media massa. Sehingga hal ini menjadi tantangan bagi media massa. “Saya optimistis, kalau kita bersama-sama dan berkolaborasi, media massa di NTB ini bisa mengatasi ingormasi hoaks ini,” katanya.

Menurut Riza, informasi hoaks akan mengancam persatuan dan kesatuan. Karena masyarakat akan mudah diadu domba. Sehingga, media massa menjadi garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat dalam memerangi informasi hoaks.

“Hoaks itu banyak di medsos. Uniknya masyarakat lebih mempercayai informasi hoaks itu. Itu mengerikan apalagi kita ketika dalam menghadapi Pilkada. Sehingga kembali lagi, bagaimana peran media massa mengatasi itu,” tandasnya.

Pemeriksa Fakta Senior Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Dedy Helsyanto mengatakan untuk memerangi hoaks tidak cukup hanya menahan jempol atau tidak membagikan informasi hoaks yang muncul. Tetapi lebih dari itu, masyarakat harus bisa memeriksa fakta, membagikan seluas-luasnya dan meminimalisir jumlah hoaks yang muncul tersebut.

“Dengan begitu, jumlah hoaks minim. Tingkat persentase polarisasi juga dapat kita tekan yang terjadi hingga sekarang,” katanya.

Tahun 2021, kata Dedy, hoaks yang paling banyak muncul di Indonesia terkait dengan kesehatan. Yaitu terkait Covid-19 dan vaksin. Sedangkan hoaks terkait politik sangat minim karena tidak ada momentum.

Namun, hoaks terkait agama dan SARA juga lumayan banyak yang muncul tahun ini. Sehingga butuh perekat lagi dari tokoh-tokoh bangsa lintas agama dan tokoh yang terkait bidang kesehatan. “Untuk mengklarifikasi hoaks yang banyak muncul tahun 2021,” tandasnya. (nas)