Anomali Cuaca, Petani Tembakau Terancam Merugi

0
Tanaman tembakau milik petani di Kecamatan Keruak.(Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Terjadinya anomali cuaca cukup mengkhawatirkan para petani tembakau di Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Pasalnya para petani tembakau di daerah ini terancam merugi atau gagal tanam akibat anomali cuaca. Terkait hal ini, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB, H. Rumaksi SJ, SH meminta petani melapor ke pemerintah.

H. Rumaksi tidak menampik ancaman kerugian yang cukup besar dialami petani tembakau ketika kondisi cuaca yang tidak menentu. Dalam satu hektar lahan pertanian, para petani berpotensi mengalami kerugian hingga Rp15 juta. Ancaman kerugian cukup besar itu, semestinya pemerintah harus hadir dengan adanya data dan laporan masyarakat.

IKLAN

 “Inilah yang harus dilihat oleh para petani. Tahun ini musim tanam dilakukan lebih awal karena hujan lebih awal,” terangnya kepada Suara NTB, Selasa, 29 Juni 2021. Bahkan ketika jatah pupuk tahun 2021 belum keluar, para petani sudah mulai melakukan penanaman. Inilah yang masih belum dibaca secara baik oleh petani dan hanya memanfaatkan situasi sesuai dengan kondisi di lapangan.

Tindakan itupun yang kemudian berdampak pada perencanaan pemerintah tidak sesuai dengan fakta di lapangan. “Salah satu dampaknya berupa pupuk menjadi langka,” terang Rumaksi yang juga Wabup Lotim ini. Kendati demikian, HKTI NTB terus melakukan terobosan-terobosan dalam menyikapi segala persoalan yang dialami oleh para petani di NTB dan Kabupaten Lotim pada khususnya.

Salah satunya terkait persoalan tembakau ini, HKTI NTB bekerjasama dengan PT Gudang Garam untuk membeli pupuk yang dihajatkan kepada petani yang tidak berada dibawah naungan perusahaan. Begitupun ketika petani mengalami gagal tanam dan panen akibat faktor cuaca, seharusnya ada kompensasi dari pemerintah yang diawali dengan adanya laporan ke pemerintah agar pemerintah juga dapat mengambil sikap dan kebijakan melalui DBHCHT.

“Kerugian untuk tembakau belum saya dengar, namun HKTI akan menggali informasinya ke pemerintah pusat,” pungkasnya. Sebelumnya, Ketua APTI Lotim, Lalu Sahabudin, mengatakan, petani tembakau saat ini tengah menghadapi situasi sulit. Maka sudah semestinya pemerintah hadir untuk membantu segala kebutuhan petani, salah satunya melalui DBHCHT tersebut.

Sedangkan di tahun 2021 ini, DBHCHT yang teralokasi untuk petani tembakau di Lotim sebesar 50 persen. Persentase ini, menurut dia, tentu masih sangat kurang melihat kebutuhan dalam bertani tembakau cukup besar sementara kondisi keuangan petani dalam kondisi serba sulit. “Kita berharap supaya 100 persen DBHCHT itu dialokasikan untuk kebutuhan petani,” katanya.

Sahabudin menambahkan, selama ini keberadaan DBHCHT pengalokasiannya dibagi dalam beberapa item penggunaannya, berupa kesehatan, irigasi dan pemenuhan kebutuhan petani itu sendiri. Maka dari itu, ia berharap supaya ke depan DBHCHT jauh lebih besar dibandingkan tahun ini. (yon)