Anjlok, Harga Bawang Putih Sembalun

0
Kepala Desa Sembalun Bumbung, Sunardi memperlihatkan bawang putih hasil panen yang penjualannya anjlok.

Selong (Suara NTB) – Harga bawang putih Sembalun musim tanam 2020, anjlok. Sebagian besar petani mengalami kerugian besar. Pada musim tanam sebelumnya, panen basah petani bisa menjual dengan harga 1,2 juta per kuintal. Sekarang, produksi super dijual dengan harga Rp 700 ribu per kuintal. Ada juga yang hanya Rp 600 ribu per kuintal.

“Petani sekarang nangis di sini (Sembalun, red),” aku Sunardi, petani bawang putih Desa Sembalun yang juga Kepala Desa Sembalun Bumbung Kecamatan Sembalun, Selasa 21 Juli 2020.

IKLAN

Sembalun Bumbung, ujarnya, 90 persen petani merupakan penanam bawang putih. Akan tetapi, tidak ada pembeli membuat bawang putih terpaksa dilelang. Rencana pengembangan bisnis bawang putih ini, ujarnya, tidak sesuai dengan janji awal dari pemerintah.

Bicara produksi, musim tanam 2020 ini cukup bagus. Akan tetapi, biaya produksi yang dikeluarkan petani tidak sebanding dengan nilai jual. Pengalamannya menanam di atas lahan seluas 1,5 hektare, jumlah bibit yang dipergunakan sebanyak 1,4 ton. Biaya produksi yang sudah dikeluarkan lebih dari Rp 70 juta. Sementara hasil penjualan Rp 40 juta. “Jadi saya rugi Rp 30 juta,” akunya.

Hal senada disampaikan petani bawang putih lainnya, Ruspaeni. Anjloknya harga si siung putih ini katanya terjadi semenjak pandemi virus corona. Harga di sawah dulu  bisa tembus Rp 15 ribu di sawah. Sekarang ini rendah, ada yang Rp5.000-7.000 per kilogram. Sedangkan untuk kering satu bulan terjual Rp 10 ribu per kilogram.

Ruspaeni yang juga penangkar benih ini mencoba gerakkan penangkar untuk menyetok benih. Akan tetapi, kalau tidak diimbangi dengan serapan APBN, maka penangkar pun tidak bia. “Penangkar juga  agak takut, karena menjadi penangkar benih ini butuh modal besar,” pungkasnya lagi.

Kepala Dinas Pertanian Lotim, H. Abadi yang dikonfirmasi terpisah mengatakan akan coba mengecek perkembangan harga bawang putih Sembalun. Tidak ditampik, penurunan harga ini akibat pandemi Corona yang terjadi selama beberapa bulan terakhir.

Minat pembeli katanya cukup banyak. Akan tetapi, distribusi barang ke luar daerah ini menjadi terganggu. Tidak ada aktivitas lalu lintas barang selama pandemi. Kondisi ini jelas membuat pasar bawang putih sebagian besar berputar di dalam daerah. “Soal pembeli ini sebenarnya sangat banyak yang minat, tapi transportasi keluar masuk ini kan sempat terganggu karena Corona,” terangnya.

Lebih jauh mengenai perkembangan harga tersebut, Kadis Pertanian Lotim ini mengaku akan turun langsung ke tengah petani mendengar informasi seputar harga yang sangat tidak berpihak kepada petani. (rus)