Angkutan “Feeder” untuk BRT Harus Dipermak

Mataram (suarantb.com) – Sejak bus Trans Mataram atau BRT beroperasi akhir 2016 lalu, penumpang belum sepenuhnya ramai. Untuk mempermudah penumpang dari jalur-jalur yang tak dilalui BRT menuju ke halte, Pemkot Mataram berencana menyediakan angkutan pengumpan (feeder) untuk BRT dengan memanfaatkan angkot kuning.

Pengamat transportasi dan lalu lintas Universitas Mataram, I Wayan Suteja mengatakan sangat sulit mengubah pola pikir masyarakat beralih menggunakan angkutan pribadi ke angkutan umum. BRT yang dipersiapkan pemerintah sebenarnya sudah siap beroperasi, lengkap dengan rute dan fasilitas pendukung lainnya. Permasalahan yang mesti diselesaikan secepatnya adalah penyediaan angkutan umpan yang memadai.

Iklan

Menurut Suteja, kendaraan umum di Mataram harus diremajakan. Karena masyarakat akan memperhatikan faktor kenyamanan.

“Kita harus permak kendaraan itu,” jelasnya kepada suarantb.com, Senin, 27 Februari 2017.

Langkah peremajaan angkot semata demi kenyamanan sehingga dapat memenuhi syarat sebagai angkutan umum. Menurutnya jika proses peremajaan hanya dibebankan kepada pemilik kendaraan, dinilai memberatkan. Sebab rata-rata kendaraan tersebut dimiliki kalangan pengusaha kecil dan menengah. Sehingga pemerintah perlu mengakomodir.

“Peremajaan yang dimaksudkan adalah dengan memperbaiki tampilan fisik kendaraan,” ujarnya.

Perbaikan itu meliputi pemasangan stiker angkutan umum, mengganti kursi penumpang, dan bagaimana membuat penumpang tidak terasa panas selama menggunakannya. Sopir angkutan pengumpan ini juga menurutnya harus memakai seragam khusus.

Suteja menyebutkan jumlah angkot di Mataram sekitar 90 armada. Dari jumlah itu, hanya 23 sampai 29 armada saja yang masih eksis dan memiliki izin operasional. Jika estimasi anggaran yang dibutuhkan untuk satu armada sekitar Rp 5 juta, dan 60 unit yang akan digunakan sebagai angkutan umpan BRT, maka dibutuhkan anggaran Rp 300 juta untuk peremajaan.

Selain faktor kenyamanan, banyaknya kendaran pribadi masyarakat menjadi alasan kenapa angkutan umum tidak diminati. Sebelumnya Suteja pernah melakukan penelitian terkait jumlah kendaraan di beberapa ruas jalan  di Kota Mataram, khususnya roda dua dan empat.

Dalam penelitiannya ditemukan kepemilikan kendaraan pribadi berjumalah 72 sampai 84 persen. Akibatnya, kendaraan umum semakin menghilang dan tidak diminati masyarakat.

Salah satu penyebabnya ialah proses kepemilikan kendaraan bermotor yang semakin mudah. Tentu ini akan berdampak pada tingginya animo masyarakat untuk memiliki kendaraan pribadi. Sulit bagi armada angkutan umum untuk bertahan di tengah banyaknya kendaraan milik pribadi.

“Yang paling sedih adalah di tengah naik angka kepemilikan kendaraan pribadi, maka peran angkutan umum semakin berkurang,” tandasnya. (anh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here