Angka Stunting di NTB Capai 23,51 Persen

Nurhandini Eka Dewi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) akan menyusun strategi percepatan penanganan stunting atau balita kurang gizi kronis. Pemprov mencatat, angka kasus stunting di NTB mencapai 23,51 persen berdasarkan data sampai Agustus 2020.

Sementara itu, Pemerintah Pusat menargetkan, kasus stunting dapat diturunkan menjadi 14 persen pada 2024 mendatang. ‘’Nanti akan ada Rakerda BKKBN dengan tema percepatan penurunan stunting. Kita akan menyusun strategi percepatan penurunan stunting di NTB, supaya bisa tercapai target 14 persen,’’ ujar Asisten III Setda NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A., dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Senin, 8 Maret 2021.

Iklan

Ia menyebut, balita yang penderita stunting di NTB berdasarkan data yang diperoleh dari Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat atau e-PPGBM sampai Agustus 2020 sebesar 23,51 persen. Data tersebut diperoleh dilaporkan oleh Posyandu yang aktif.

Diperkirakan angka kasus stunting akan meningkat, karena masih ada Posyandu yang tidak aktif akibat pandemi. Ia menyebut sekitar 70 persen Posyandu di NTB yang aktif pada 2020 dan melaporkan data kasus stunting. Sehingga ada sekitar 30 persen Posyandu yang tidak melaporkan kasus stunting karena tidak aktif.

Ditanya daerah yang masih tinggi angka stuntingnya, Eka menyebut Lombok Timur. Ia mengatakan angka stunting di daerah ujung timur Pulau Lombok tersebut memiliki angka stunting di atas 30 persen.

Selama ini, kata Mantan Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB ini, strategi yang dilakukan dengan memberikan tablet tambah darah bagi remaja. Selain itu, mendorong usia perkawinan. Karena salah satu penyebab masih tingginya angka stunting di NTB adalah perkawinan usia dini dan anemia pada remaja.

‘’Makanya, untuk remaja kita punya program, untuk gizinya ada, pendewasaan usia perkawinan juga ada. Jadi sebenarnya lebih maju kita dalam upaya pencegahan. Setiap remaja minum tablet tambah darah setiap minggu. Dalam rangka mempersiapkan dia jadi ibu,’’ terangnya.

Eka menyebutkan, daerah yang rendah angka stunting di NTB adalah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Angka stunting di KSB berada di bawah 20 persen, yaitu sebesar 18 persen. Sehingga, untuk mengejar target penurunan stunting menjadi 14 persen tahun 2024, KSB cukup mudah.

Namun, untuk Lombok Timur, cukup berat mengejar target penurunan stunting menjadi 14 persen. Karena angka stunting di daerah tersebut sekarang di atas 30 persen.

‘’Kita sekarang untuk penanganan stunting fokus ke daerah-daerah dengan jumlah penduduk banyak dan angka stunting tertinggi. Jadi, tidak lagi diratakan. Karena kita mau menuju 14 persen,’’ tuturnya. (nas)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional