Angka Putus Sekolah Masih Tinggi, Dikbud NTB Luncurkan Program Sekolah Terbuka

H. Aidy Furqan (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Mulai tahun ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi NTB, meluncurkan program sekolah terbuka di 17 sekolah yang ada di seluruh NTB. Program tersebut untuk menjawab cukup tingginya angka anak putus sekolah di NTB yang mencapai hingga 2 persen per tahun. Di mana pada tahun 2020 saja, tercatat ada sekitar 3.000 anak di NTB mengalami putus sekolah, dengan berbagai penyebab.

“Jadi sejak bulan Juli lalu, kita memulai program sekolah terbuka yang diperuntukan khusus bagi anak-anak usia sekolah yang mengalami putus sekolah di daerah ini,” sebut Kepala Disdikbud NTB, Dr. Aidy Furqan, di sela-sela acara pembukaan pameran dan museum keliling di Kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Lombok Tengah (Loteng), Selasa, 12 Oktober 2021.

Iklan

Ia menjelaskan, konsep sekolah terbuka memang berbeda dari sekolah reguler. Tetapi tujuannya sama, bagaimana bisa memberikan pembelajaran bagi siswa, dalam hal ini siswa putus sekolah, sehingga bisa memperoleh pengakuan formal berupa ijazah.

Menurutnya, banyak siswa putus sekolah yang sebenarnya berharap bisa melanjutkan pendidikan. Paling tidak menyelesaikan pendidikan. Namun terkadang malu, karena berbagai alasan. Karena anak putus sekolah, penyebabnya juga beragam. Ada yang karena persoalan keluarga maupun yang lain.

“Kehadiran sekolah terbuka untuk menjawab persoalan tersebut. Jadi siswa putus sekolah bisa melanjutkan pendidikan, tanpa harus malu,” sebutnya. Karena memang konsepnya lebih pada pendidikan non formal. Siswa-siswa putus sekolah membuat kelompok belajar, untuk selanjutnya guru akan melakukan kunjungan.

Jadwal belajar pun diatur sesuai kesepakatan. Supaya tidak sampai mengganggu siswa, karena bisa saja, peserta sekolah terbuka tersebut ada yang sudah bekerja atau kesibukan lainnya. “Untuk guru kunjungnya ditentukan dari sekolah sasaran program,” imbuh Aidy.

Di Loteng ada tiga lokasi sekolah terbuka. Dengan siswa sasaran sebanyak sekitar 300 orang dan khusus anak sekolah usia 22 tahun kebawah. Saat ini program sekolah terbuka terbatas untuk siswa SMA yang putus sekolah. Sedangkan untuk jejang pendidikan SMP ke bawah ada programnya tersendiri.

Dari 3.000 lebih siswa SMA yang putus sekolah, ada 1.650 siswa putus sekolah yang tercatat sebagai peserta sekolah terbuka. Sisa yang belum kemungkinan usianya sudah di atas 22 tahun, sedang tidak di NTB atau mungkin persoalan lain. “Prinsipnya kita sudah melakukan upaya, untuk bagaimana bisa menjawab persoalan siswa putus sekolah. Kedepan, tentu kita berharap angka putus sekolah bisa terus menurun,” tandasnya. (kir)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional