Angka Putus Sekolah Jadi Pemicu Rendahnya IPM NTB

H. Aidy Furqan (Suara NTB/nas)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB masih bertahan di posisi 29 dari 34 provinsi di Indonesia. IPM NTB naik tipis dari 68,14 tahun 2019, menjadi 68,25 pada tahun 2020. Dari dimensi pendidikan, angka putus sekolah atau drop out masih menjadi pemicu rendahnya IPM NTB.

Kepala Dinas Dikbud NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., menjelaskan dari dimensi pendidikan, IPM diukur dari dua hal. Yaitu, angka partisipasi sekolah dan angka lama sekolah. Angka partisipasi sekolah maksudnya, banyaknya masyarakat usia sekolah duduk di bangku sekolah. Sedangkan angka lama sekolah, artinya banyaknya masyarakat usia sekolah melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

“Bisa jadi, kita punya angka partisipasi 5.000 orang, semuanya ada di sekolah. Tetapi hanya 4.000 orang yang sampai tamat, itu angka melanjutkan. Itu memberi pengaruh juga terhadap IPM NTB,” kata Aidy dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Selasa, 22 Desember 2020.

Ia mengatakan siswa yang putus sekolah atau DO memang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) untuk mendongkrak IPM NTB. Siswa yang putus sekolah dari jenjang SD, SMP hinga SMA/SMK masih ditemukan di NTB. Namun, ia menyebut angkanya sudah di bawah 2 persen.

“Ada siswa yang masih putus sekolah karena harus kerja. Putus sekolah karena ekonomi, dan menikah,” bebernya.

Untuk menekan angka putus sekolah yang disebabkan faktor ekonomi, Aidy mengatakan Pemerintah memberikan beasiswa miskin melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP). Sedangkan, siswa yang putus sekolah karena harus bekerja, dibuka layanan pendidikan melalui SMA Terbuka.

“Sudah ada paket kesetaraan tapi tak optimal.  Ada yang pada saat usia sekolah menikah dan bekerja sehingga putus sekolah. Nah, bagi siswa yang menikah dan bekerja ini sudah kita mulai buka SMA Terbuka,” terangnya.

Ia menyebut ada 7 SMA Terbuka yang dibuka di NTB, terutama di daerah-daerah yang menjadi kantong banyaknya siswa yang putus sekolah. Untuk Pulau Lombok, SMA Terbuka dibuka di SMAN 2 Lembar, SMAN 1 Batulayar, SMAN 1 Narmada dan SMAN 1 Jerowaru.

Melalui SMA Terbuka, ia yakin angka partisipasi sekolah jenjang SMA/SMK akan meningkat. “Sekarang sudah 200 orang sudah mendaftar. Kalau 50 orang saja bisa  sampai tamat, maka lama sekolah akan naik,” ujarnya.

Sementara untuk meningkatkan angka melanjutkan tamatan SMA/SMK ke perguruan tinggi. Aidy mengatakan pihaknya akan berkomunikasi dengan rektor perguruan tinggi agar memberikan kuota khusus bagi anak-anak dari daerah terpencil yang ada di NTB.

“Kalau anak-anak dari daerah pinggiran dan terpencil diberikan kesempatan, jangan disamaratakan dengan anak di perkotaan. Maka akan mendongkrak angka partisipasi, lama sekolah akan naik,” tandasnya.

Berdasarkan data Dinas Dikbud dalam NTB Satu Data, angka putus sekolah jenjang SD, SMP, SMA/SMK pada tahun ajaran 2019/2020 memang masih cukup besar. Untuk jenjang SD, jumlah siswa yang putus sekolah sebanyak 344 orang atau 0,07 persen.

Dengan rincian, Lombok Barat 67 orang, Lombok Tengah 24 orang, Lombok Timur 97 orang, Sumbawa 44 orang, Dompu 25 orang, Bima 65 orang, Sumbawa Barat 1 orang, Lombok Utara 10 orang, Kota Mataram 1 orang dan Kota Bima 10 orang.

Jenjang pendidikan berikutnya yang banyak siswa putus sekolah adalah SMK, sebanyak 249 orang atau 0,34 persen. Dengan rincian, Lombok Barat 35 orang, Lombok Tengah 21 orang, Lombok Timur 30 orang, Sumbawa 44 orang, Dompu 33 orang, Bima 18 orang, Sumbawa Barat 13 orang, Lombok Utara 12 orang, Kota Mataram 15 orang dan Kota Bima 28 orang.

Sedangkan untuk jenjang pendidikan SMP, jumlah siswa yang putus sekolah di NTB sebanyak 43 orang. Tersebar di Lombok Tengah 1 orang, Lombok Timur 9 orang, Sumbawa 1 orang, Dompu 12 orang, Bima 19 orang dan Sumbawa Barat 1 orang.

Sementara, angka putus sekolah untuk jenjang SMA sebanyak 47 orang. Dengan rincian, Lombok Barat 4 orang, Lombok Tengah 13 orang, Lombok Timur 8 orang, Sumbawa 6 orang dan Bima 16 orang. (nas)