Anggaran Terbatas, Pelayanan Air Bersih di Dompu Belum Merata

Dompu (Suara NTB) – Sumber mata air bersih di Kabupaten Dompu cukup banyak dan sebenarnya sangat memungkinkan untuk pemerataan penyalurannya ke masyarakat. Hanya saja, ketersediaan sumber mata air pegunungan ini tidak dimanfaatkan. Alasanya kemampuan anggaran untuk pengadaan saluran perpipaan tidak cukup memadai. Saat ini PDAM Dompu hanya mengandalkan dua sumber air permukaan, yakni bendungan Rora dan Kamudi.

“Kalau bicara soal mata air bukan tidak ada, tapi sangat banyak dan cukup jauh. Investasi awal butuh biaya tinggi karena membangun sebuah sarana dan prasarana PDAM itu tidak sedikit anggarannya,” ungkap Kasubag Administarasi dan Keuangan PDAM, Muhamin, kepada Suara NTB dirung kerjanya beberapa waktu lalu.

Iklan

Kodisi dua sumber mata air tersebut dinilai sudah tidak memungkinkan untuk menjangkau beberapa wilayah yang letaknya pada ketinggian. Terlebih saluran perpiaan yang tertanam sejak 1980-an itu pun dianggap tidak lagi ideal. Karenanya untuk mengatasi persoalan ini perlu inovasi baru, diantaranya melakukan rehabilitasi perpipaan atau segera memanfaatkan sumber mata air yang telah tersedia.

Untuk memanfatkan sumur bor sebagaimana yang pernah dilakukan sebelumnya tidak lagi memungkinkan, sebab biaya operasionalnya tidak sesuai dengan pendapatan. “Kalau kita beroperasi delapan jam saja dengan menggunakan sumur bor itu tidak mampu kita bayar transmisi listrik, beda dengan perusahaan lain di luar daerah sana, mereka mau pakai air bawah tanah itu tidak masalah karena keuangan mereka sudah miliaran bahkan trilunan,” jelasnya.

Menurutnya, tingginya pendapatan perusahaan air minum luar daerah samat-mata akibat banyaknya industri yang beroperasi. Berbeda hal di sini (Dompu, Red) yang hanya dimanfaatkan oleh rumah tangga. Untuk menaikkan tarif Rp 10 ribu saja masyarakat sudah teriak dan ujung-ujungnya demonstrasi.

Karenanya harap dia, dengan banyaknya sumber mata air yang dimiliki di tengah kesulitan air bersih yang dihadapi masyarakat, pihaknya hanya bisa menunggu uluran tangan pemerintah melaui program-programnya untuk memanfaat sumber mata air yang ada.

“Mereka (masyarakat, Red) tidak tahu padahal biaya untuk satu kubik air itu mahal. Kami hanya menunggu uluran tangan pemerintah sekarang, karena kita ini perusahaan yang hanya menerima manfaat, baru bisa ada program kita harus usul diterima tidaknya tergantung pemerintah,” pungkasnya. (jun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here