Ancaman Anthrax di Sumbawa Masih Terkendali

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Sumbawa sejauh ini masih berhasil mengendalikan ancaman anthrax pada ternak besar. Terutama pada 15 kecamatan yang endemik anthrax.

Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) Disnakeswan Sumbawa, drh. Edy Putra Darma, Jumat, 21 Oktober 2016 menerangkan, endemik anthrax di Sumbawa di antaranya pada wilayah yang menjadi basis peternakan di daerah ini, seperti Empang, Pelampang, Lape, Moyo Hilir, Moyo Hulu, Buer dan lainnya. Namun sampai  sejauh ini berhasil dikendalikan di daerah yang memang dikenal sebagai gudang peternakan ini.

Iklan

Dari laporan dokter hewan di lapangan, penyakit yang ada ternak besar pada musim musim seperti ini, hanya  berupa demam dan cacingan, akibat faktor cuaca dan pengaruh pakan yang memang cukup sulit di tengah kemarau saat ini.  Ancaman penyakit seperti SE (ngorok) pun hanya terjadi saat puncak musim hujan, Januari dan Februari.

Hal ini juga tak lepas dari makin intensifnya program vaksinasi yang dilaksanakan setiap tahunnya pada ternak besar seperti sapi, kerbau dan kuda. Semua itu untuk menundukung program satu induk, satu anak, satu tahun, sebagai aplikasi program peningkatan populasi ternak di daerah ini. Tak heran kalau khusus sapi, populasinya terus meningkat. Meski harus diakui kerbau trend-nya menurun, karena berbagai faktor, seperti pejantan dan pengiriman ke luar daerah.

Khusus kerbau, Disnakeswan juga memiliki UPTD Pengembangan Kerbau di Maronge. Yang dilengkapi beagam fasilitas, termasuk laboratorium untuk kesehatan hewan. Yang terus dipantau dan diawasi seorang dokter hewan. Terkait penyakit, daya tahan kerbau justru lebih tinggi dibandingkan sapi. Sehingga lebih mudah dikendalikan. (arn)