Ancam Keselamatan Siswa, Dikpora Segera Tinjau Bangunan Fisik SDN 1 Loyok

Selong (Suara NTB) – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) dalam waktu dekat ini akan turun langsung ke SDN 1 Loyok Kecamatan Sikur untuk meninjau kondisi bangunan fisik sekolah yang informasinya cukup memprihatinkan. Dimana, dua Ruang Kelas Belajar (RKB) yakni kelas 5 dan 6 ditopang menggunakan sebatang bambu, kondisi itupun sangat mengancam keselamatan siswa.

Dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 17 November 2016, Kepala Dinas Dikpora Lotim, H. Lalu Suandi mengaku secara resmi dirinya memang belum mendapat laporan terkait kondisi bangunan fisik SDN 1 Loyok yang ditopang menggunakan pohon bambu lantara kayu dari atap sekolah yang sudah rapuh. Informasi ini, katanya, diketahui ketika media mengabarkan hal tersebut.

Iklan

“Baru sekarang saya mendapat informasi ini karena belum semua sekolah kita tinjau. Di Lotim sendiri kan terdapat 700 lebih sekolah. Terkait dengan SDN 1 Loyok ini, nanti kita akan tinjau langsung,” katanya.

Terkait dengan kondisi bangunan fisik sekolah yang sudah rapuh termakan zaman, Lalu Suandi menyebut jika hal itu tidak hanya terjadi di SDN 1 Loyok. Melainkan di beberapa kecamatan di Lotim banyak terdapat bangunan-bangunan fisik sekolah yang cukup memprihatinkan. Skala kerusakannya pun bervariasi mulai dari yang mengalami rusak ringan, rusak sedang, rusak berat maupun yang kekurangan ruang kelas.

“Nanti semua akan kita tangani. Termasuk tahun 2017 akan banyak kita tangani terutama yang skala prioritas, itupun disesuaikan dengan kondisi keuangan yang ada,” jelasnya.

Mantan Kepala Dishubkominfo ini menambahkan, sekolah-sekolah yang dijadikan skala prioritas untuk dilakukan perbaikan tentunya yang berpotensi menganggu Proses Belajara Mengajar (PBM) serta mengancam  keamanan, kenyamanan dan keselamatan. Apabila kondisi bangunan gedung sekolah sudah mengancam keselamatan siswa, dipastikannya bahwa tahun 2017 bisa diperbaiki.

  Penyelesaian Aset "Shopping Center" Belum Jelas

“Insya Allah sekolah-sekolah yang menjadi prioritas akan kita tangani pada tahun 2017,” jelasnya.

Terlebih, sambungnya, saat ini banyak sumber anggaran untuk memperbaiki bangunan fisik sekolah. Misalnya, sekolah-sekolah yang mengalami rusak ringan maka sekolah itu bisa mandiri dengan memperbaikinya lewat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), sementara apabila rusak sedang, ruang  kelas bisa dianggarkan lewat Dana Alokasi Khusus (DAK) APBD. Sementara, untuk sekolah-sekolah mengalami rusak berat didorong untuk ditangani oleh pusat.

“Namun kita berharap anggaran kita di Dikpora semakin besar,” jelasnya.

Kendati demikian, sambung Lalu Suandi, Dikpora tidak ingin ada sekolah yang tidak begitu rusak namun dibuat seolah-olah rusak betul oleh pihak sekolah. Oleh sebab itu, dalam pemberian bantuan untuk sekolah-sekolah yang dijadikan skala prioritas akan dipantau langsung. Termasuk pula untuk penerimaan bantuan pusat pihaknya sudah membentuk tim yang bekerjasama dengan SMK Bangunan untuk  menafsirkan kerusakan-kerusakan secara tekhnis sehingga bisa lebih benar.

“Intinya apabila bangunan sekolah itu membahayakan siswa dalam proses KBM, pasti nanti akan dijadikan skala prioritas,”pungkasnya. (yon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here