Anak TKI di Bima, Kesulitan Biaya Operasi

Bima (Suara NTB) – Seorang warga desa Sondo Kecamatan Monta, Febi Febria Andri (13), menderita kelainan penyempitan lubang anus. Penderitaan pelajar yang masih duduk di bangku kelas VII itu dialaminya sejak lahir pada tahun 2004 silam.

“Akibat mengalami penyempitan anus ini, anak saya kesulitan buang air besar (BAB),” kata Ibu kandung bocah yang akrab dipanggil Andri, Nuraini kepada Suara NTB, Sabtu, 11 Maret 2017.

Iklan

Diakuinya, pada saat usia dua tahun, anaknya yang kini tengah menginjak 13 tahun telah telah dilakukan operasi dua kali. Hanya saja tidak ada perubahan bahkan kondisinya semakin parah.

“Saat BAB anak saya suka mengeluh sakit, terkadang sampai sesak napas akibat memaksa menahan keluar. Luka bekas operasinya harus ditutup dengan kain atau plastik,” ujarnya.

Pihak keluarga berencana ingin melakukan operasi lanjutan untuk ketiga kalinya. Sayangnya keinginan besar supaya Andri bisa normal kembali, harus terhalang karena kondisi keuangan yang minim.

“Mau perawatan dan operasi lanjut tidak ada biaya,” keluh ibu dua anak ini.

Selain sebagai ibu rumah tangga, di desa setempat Nuraini juga merupakan kepala rumah tangga dan bekerja sebagai buruh tani. Hasilnya hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Karena sejak tahun 2013 lalu, suaminya telah menjadi TKI dan sampai sekarang belum pulang. “Tapi hingga saat ini hasilnya belum ada. Hanya cukup untuk kebutuhannya saja,” katanya.

Koordinator Relawan Sosial Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Monta, Kisman, SH, mengaku, Nuraini tergolong warga miskin di desa setempat. Hal tersebut menjadi salah satu kendala biaya operasi lanjutan.

“Kondisinya sangat miskin serta penghasilan tidak menentu. Kami berharap Pemerintah Daerah segera turun tangan. Membantu biaya operasi sehingga Andri bisa normal kembali,” pungkasnya. (uki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here