Anak sebagai Pelaku Kriminal Disebut Korban Orang Dewasa

Mataram (suarantb.com) – Belakangan banyak muncul kasus kriminal berupa pencurian, penganiayaan hingga pelecehan seksual yang pelakunya tergolong anak di bawah umur. Anak sebagai pelaku kriminal ini disebut merupakan korban dari orang dewasa. Seperti yang disampaikan Dewan Komite Reformasi dan Advokasi Hukum Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Sari Murti.

Sari menyampaikan orang dewasa yang tidak memberikan pendidikan dan perawatan yang baik kepada anak-anak dapat memicu anak berperilaku menyimpang. Menurutnya pelaku kriminal dari kalangan anak-anak terkadang tidak menyadari perilakunya tersebut merupakan pelanggaran hukum.

Iklan

“Mereka tidak tahu bahwa itu perbuatan melanggar hukum,” jelasnya dalam konferensi pers, Jum’at, 22 Juli 2106 di Mataram. Untuk itulah orang dewasa berkewajiban memberikan pemahaman kepada anak-anak, baik itu oleh orang tua, melalui sekolah, maupun masyarakat.

Untuk menjamin masa depan pelaku kriminal anak, pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Dalam UU tersebut, anak yang menjadi pelaku sedapat mungkin diutamakan mendapatkan pembinaan, bukan hukuman penjara. Sari juga menyebutkan di dalam UU tersebut diberikan kewenangan kepada aparat penegak hukum untuk melakukan defensi (pembelaan).

“Defensi tidak sembarang diberikan, ada syaratnya. Kalau ancaman hukumannya kurang dari tujuh tahun atau bukan pengulangan tindak pidana, maka defensi bisa dilakukan,” terangnya.

Dengan demikian paradigma dalam penanganan kasus kriminal yang melibatkan anak bukan merupakan pembalasan, namun perbaikan dan pembinaan yang merupakan sistem peradilan restoratif. Dengan demikian anak sebagai pelaku tindak pidana tetap memiliki harapan masa depan yang lebih baik.

“Artinya menyelesaikan masalah di luar sistem peradilan pidana,” pungkasnya. (rdi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here