Anak NTB Berisiko Tinggi Kena Stunting dan Gizi Buruk

FOTO BERSAMA: Tim Penggerak PKK NTB, Hj.Niken Zulkieflimansyah, Kepala BKKBN Perwakilan NTB, Makripuddin foto bersama usai seminar kesehatan reproduksi soal pemberian ASI di Mataram, Minggu (23/12). (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, bayi yang diberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif di NTB sebanyak 27 persen. Sisanya, 73 persen bayi di NTB diberikan susu formula dan makanan selain ASI.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan NTB, Dr. Makripuddin, M. Si mengatakan bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif berisiko tinggi kena stunting dan gizi buruk.

Iklan

“Kalau ASI diberikan maka stunting bisa kita cegah. Gizi buruk juga akan bisa kita cegah. Karena ASI mengandung gizi yang sangat lengkap bagi bayi,” kata Makripuddin dikonfirmasi Suara NTB. Ia mengatakan BKKBN bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK NTB menggelar seminar kesehatan reproduksi menggunakan siklus kehidupan. Fokusnya seminar tentang Air Susu Ibu (ASI).

Makripuddin mengatakan tiga tahun lalu, NTB rangking satu nasional soal cakupan pemberian ASI eksklusif kepada bayi mencapai 78 persen. Tetapi sekarang, posisi NTB jauh melorot, cakupannya hanya 27 persen. “Padahal nasional sudah 36 persen. Oleh karena itu menarik, kenapa bisa turun tajam. Padahal ASI ekslusif adalah makanan yang penting bagi bayi,” katanya.

Hingga saat ini, kata Makripuddin, belum ada makanan bayi terbaik selain ASI. Untuk itulah, pihaknya menggelar seminar dengan mengundang stakeholders terkait untuk mencari penyebab turunnya cakupan pemberian ASI. Termasuk mencari solusi meningkatkan pemberian ASI eksklusif bagi bayi umur 0-6 bulan.

‘’ASI eksklusif itu diberikan enam bulan tanpa makanan tambahan. Hanya diberikan ASI saja. Artinya sebagain besar di NTB ini memberikan susu formula. 73 persen memberikan selain ASI,” katanya. Menurutnya, pemberian makanan selain ASI kepada bayi umur di bawah enam bulan sangat tidak baik. Sehingga kemungkinan anak nantinya kena  gizi buruk juga semakin besar. Termasuk juga stunting,” paparnya.

Ditanya mengenai penyebab rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif di NTB, Makripuddin mengatakan kemungkinan informasi belum sampai kepada masyarakat. Artinya, kemungkinan mereka belum mengetahui manfaat daripada ASI.

Selain itu, kemungkinan ada kesibukan seorang  ibu. Sehingga mereka berpikir cukup dengan  memberikan susu formula. “Kurangnya dukungan suami. Suami harus memberikan dukungan penuh supaya seorang ibu memberikan ASI ekslusif,” ujarnya.

Ke depan, diharapkan para orang tua di daerah ini benar-benar memperhatikan pemberian ASI eksklusif kepada anaknya yang berumur di bawah enam bulan. Sehingga bayinya tumbuh dan berkembang dengan baik. Sehingga angka stunting dapat terus ditekan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, kasus stunting mencapai 37,2 persen pada 2017. Dengan kasus sebanyak ini, termasuk katagori buruk. Dari 10 kabupaten/kota di NTB, kasus stunting paling banyak ditemukan di Kabupaten Sumbawa mencapai 41,8  persen.

Kemudian disusul Lombok tengah dengan jumlah 39,1 persen, Dompu 38,3 persen, Lombok Utara dan Kota Mataram masing-masing 37,6 persen dan 37,5 persen. Selanjutnya, Bima 36,7 persen, Kota Bima 36,3 persen, Lombok Barat 36,1 persen, Lombok Timur dan Sumbawa Barat masing-masing 35,1 persen dan 32,6 persen. (nas)