Anak Korban Luka Bakar Minyak Goreng Dipulangkan Paksa

Ida Fitriani. (Suara NTB/ula)

Dompu (Suara NTB) – Revalina Putri (4,5) warga Lara Desa Nangatumpu Kecamatan Manggelewa yang terkena luka bakar setelah tercebur di wajan berisi minyak goreng paksa dan dirawat di RSUD Dompu dengan biaya donatur akhirnya dipulangkan paksa. Orang tuanya tidak ingin anaknya dirujuk ke Bali untuk mendapat perawatan medis dari dokter ahli seperti ditawarkan donatur.

“Keluarganya barusan sudah memutuskan untuk tetep rawat sendiri (revalina). Saya sudah ngak bisa bilang apa,” kata Mawar, donatur yang membiayai perawatan Reva secara medis kepada Suara NTB, Kamis, 20 Agustus 2020. Bahkan orang tua Revalina, membawa pulang anaknya yang sedang dalam perawatan medis di RSUD Dompu pada Kamis itu juga.

Iklan

Keputusan orang tua Reva ini cukup disayangkan Mawar. Di saat pihaknya semangat untuk membantu demi kesembuhan anaknya yang mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya, malah tidak disambut baik orang tuanya.

“Padahal semua mau difasilitasi, sampe hal helikopter (untuk angkutan dari Dompu ke Bali),” kata Mawar melalui pesan singkatnya.

Humas RSUD Dompu, Ida Fitriani, S.Keb. Bd yang dihubungi terpisah mengaku belum mengecek di ruang perawatan Reva untuk memastikan ia telah dipulangkan orang tuanya atau belum. Namun dipastikannya, keluarganya tidak setuju anaknya dirujuk ke Bali untuk pengobatan lebih lanjut terhadap Reva. “Orang tuanya tetap ngotot tidak izinkan anaknya untuk dirujuk ke Bali dan mau merawat sendiri,” katanya.

Sikap orang tuanya ini sangat disayangkan. Apalagi donatur yang siap membiayai perawatan Reva ini sudah siap hingga menggunakan Helikopter bila ada kendala dengan pesawat terbang komersil untuk membawa Reva berobat ke Bali.

“Yang ngotot itu orang tuanya. Kita akan coba bangun komunikasi dengan keluarganya yang lain dan kepala Desanya agar Reva ini segera tertangani secara medis,” ungkap Ida Fitriani.

Baharuddin, ayah kandung Reva yang dihubungi, Sabtu pagi, 22 Agustus 2020 membantah telah memanfaatkan kondisi anaknya untuk keuntungan pribadi. Selain itu, tidak mungkin pihaknya membunuh anak sendiri lantaran belum siap dirujuk untuk ditangani tim medis hingga ke Bali. “Saya ndak ada manfaatkan anak. Untuk apa? Gila kalau kami mau bunuh anak. Jangankan anak, semut aja ndak mau kita bunuh,” katanya.

Dana yang dibantu para donatur, lanjut Baharuddin, hingga saat ini masih dipegangnya. Itu karena dirinya khawatir dituding memanfaatkan kondisi anaknya. Tapi pilihannya untuk pulang dari RSUD Dompu untuk menjalani perawatan di rumah, karena Minggu, 23 Agustus 2020 ini untuk keempat kalinya berkunjung ke dokter pribadi di Plampang.

“Saya merawat di rumah aja. Kebetulan besok pergi kontrol ke dokter pribadi di Plampang. Karena luka ini saya perhatikan, ada perubahan menuju kesembuhan. Makanya kami ingin merawat di rumah atas pengobatan dokter pribadi dan di rumah lukanya dibersihkan oleh bidan Desa,” jelasnya. (ula)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional