Anak di Pelosok Sumbawa Belajar Lewat HT, Nurdin Ranggabarani Tegaskan Pentingnya Konektivitas

Nurdin Ranggabarani (Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar – Anak-anak di Dusun Punik, Desa Batudulang, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa, NTB yang terpaksa menggunakan handie talkie (HT) untuk belajar selama masa pandemi ini. Kisah mengharukan ini harus menjadi catatan yang penting. Mengingat, ketersediaan sinyal seluler untuk berkomunikasi saat ini semakin penting bagi kehidupan warga.

Hal itu disampaikan Ketua Yayasan Sumbawa Bangkit, Nurdin Ranggabarani, SH, MH, Rabu, 19 Agustus 2020.

Iklan

Nurdin mengisahkan, hingga kini, masih banyak warga NTB yang belum menikmati sinyal internet. Bahkan, mengutip data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), hingga tahun 2018, sebanyak 31,8 persen warga NTB bisa menikmati layanan internet.

Tak heran jika anak-anak di Batulanteh yang ingin menimba ilmu, harus menempuh perjalanan menanjak sejauh setengah kilometer menuju titik tertentu di pegunungan. “Mereka harus berjuang seperti itu demi mencari sinyal internet. Malahan, belum tentu mereka bisa memperolehnya,” ujar Nurdin.

Nurdin menambahkan bahwa luasnya Kabupaten Sumbawa memang menimbulkan konsekuensi banyaknya warga di daerah pinggiran yang belum menikmati fasilitas-fasilitas modern seperti sinyal elektronik. Malahan, ada pula yang belum menikmati listrik.

Menurut Nurdin, sebanyak 500 kepala keluarga di dusun Punik, Batulanteh tersebut adalah rakyat Sumbawa juga.

“Mereka juga punya hak untuk menikmati pembangunan. Untuk menikmati buah dari kemerdekaan yang selalu kita peringati setiap tahun. Makanya, fasilitas internet untuk warga-warga yang berada di pelosok, itu wajib kita perjuangkan,” tegas politisi yang pernah dua periode menjabat anggota DPRD NTB ini.

Seperti diketahui keterbatasan sinyal seluler membuat anak-anak yang tinggal di Dusun Punik, Batulanteh, terpaksa belajar dengan menggunakan perangkat HT.

Metode pembelajaran yang cukup unik ini diinisiasi oleh Dosen FKIP Universitas Samawa (Unsa) Rusdianto AR. Ide pembelajaran cerdas ini didukung oleh jejaring anggota Radio Amatir Penduduk Indonesia (RAPI) di daerah tersebut.

“Kita beruntung memiliki orang-orang yang masih mau berjuang dan berpikir kreatif di tengah kesulitan hidup di daerah pelosok seperti Batulanteh. Tapi sebagai pemerintah daerah, seharusnya apa yang menjadi hak masyarakat, seperti misalnya sinyal seluler, itu tidak boleh diabaikan. Konektivitas itu harus masuk dalam prioritas,” seru Nurdin Ranggabarani.

Nurdin menambahkan, di era digital dan nirkabel ini, ketiadaan koneksi jaringan seluler adalah salah satu bentuk keterisolasian dan keterbelakangan. “Kondisi ini harus segera diakhiri, untuk memberi layanan dan peluang yang sama untuk dapat mengakses informasi internet bagi seluruh warga,” tegasnya. (aan)

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional