AN Tidak Timbulkan Konsekuensi, Sekolah Tidak Perlu Laksanakan Bimbel Khusus

Pelaksanaan simulasi asesmen nasional di salah satu SMA.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Hasil Asesmen Nasional (AN) nantinya tidak akan menimbulkan konsekuensi kepada siswa, guru, maupun kepala sekolah. Dengan begitu sekolah diminta tidak harus membuat bimbingan belajar (bimbel) khusus persiapan AN seperti yang biasa terjadi saat persiapan ujian nasional dahulu.

Sekretaris Panitia Wilayah Asesmen Nasional tahun 2021 Dinas Dikbud Provinsi NTB, Purni Susanto mengatakan, pihaknya berharap agar guru, siswa, dan orang tua atau wali tidak disibukkan dengan persiapan khusus menghadapi AN tahun 2021. “AN ini tidak membutuhkan bimbel khusus untuk membeddah soal-soal latihan. Hasil dari AN ini juga tidak berbentuk laporan individu seperti SKHUN saat ujian nasional pada tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Iklan

Hasil AN nantinya akan berbentuk laporan capaian secara umum suatu sekolah. Purni menjelaskan, misalnya sekolah A, hasil numerasi siswanya 50 persen berkemampuan dasar, 25 persen siswanya cakap, dan 10 persen berkemampuan dasar. Sisanya 15 persen membutuhkan intervensi.

Purni juga mengingatkan, bahwa berapapun perolehan prestasi siswa di suatu sekolah tidak akan berpengaruh terhadap bantuan pemerintah pusat, termasuk dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). “Misalnya bila sekolah B, prestasi atau capain siswanya pada AN rendah, maka dana BOS-nya akan dipotong, itu tidak ada,” tegas Purni.

Kepala Seksi Kurikulum Bidang Pembinaan SMA Dinas Dikbud NTB ini menyampaikan, sekolah dipersilakan berupaya sungguh-sungguh memperbaiki kualitas pembelajaran tanpa memaknainya dengan membuat bimbel khusus persiapan AN. Soal-soal AN nantinya lebih menuntut kemampuan berpikir kritis, baik dalam mengolah informasi pada soal literasi maupun mengolah angka-angka pada soal numerasi.

Selain itu, dalam situasi pandemi ini, pelaksanaan AN hanya dilaksanakan di daerah-daerah yang membolehkan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. AN dijadwalkan akan dilaksanakan pada bulan September –Oktober 2021 ini. Sedangkan, bagi daerah yang belum memungkinkan PTM terbatas, dapat mengikuti AN susulan yang rencananya dilaksanakan sekitar Februari-April 2022 yang akan datang.

Saat ini simulasi asesmen nasional tengah berjalan, simulasi dijadwalkan pada 23 sampai dengan 26 Agustus 2021 untuk gelombang satu. Dilanjutkan tanggal 30 Agustus sampai dengan 2 September 2021 utnuk gelombang dua.

Bimtek AKM bagi Guru Kelas

Persiapan pelaksanaan Asesmen Nasional sudah memasuki tahap simulasi. Tahap ini bertujuan untuk menguji kesiapan sistem sebelum digunakan pada bulan September dan Oktober nanti. Di samping kesiapan teknis, pendidik dan tenaga kependidikan yang merupakan komponen utama satuan pendidikan tentu saja membutuhkan informasi yang memadai sebelum mereka siap menghadapi Asesmen Nasional. Dalam upaya membantu kesiapan satuan pendidikan, LPMP NTB melaksanakan bimbingan teknis Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) bagi guru kelas selama dua hari yang berlangsung secara daring.

Kepala LPMP NTB, Mohamad Mustari, Ph.D., menyampaikan, kegiatan bimtek yang dimulai pada tanggal 23 Agustus tersebut menghadirkan peserta dari seluruh kabupaten/kota yang ada di NTB. Sebanyak 468 orang guru SD dan SMP yang tersebar di 116 kecamatan menjadi peserta utama dalam kegiatan ini. Hadir juga 20 pejabat dari Dinas Pendidikan kabupaten/kota sebagai bentuk dukungan kepada satuan pendidikan yang ada di wilayah mereka.

Mustari mengatakan, progress verifikasi dan validasi TIK terakhir sekitar 97,49 persen sekolah telah melakukan pembaruandata TIK. Ia berharap, sekolah yang belum melakukan perbaikan data TIK segera melakukan verifikasi dan validasi pada website yang telah disediakan agar bisa terdaftar sebagai peserta asesmen.

Dalam kegiatan tersebut, selain paparan dan diskusi peserta juga melakukan simulasi AKM melalui website Pusat Asesmen dan Pembelajaran (Pusmenjar). Tujuannya agar guru bisa memahami bentuk-bentuk soal yang akan diujikan di AKM. Namun, dalam sesi diskusi narasumber mengingatkan bahwa persiapan siswa untuk menghadapi AKM jangan sampai mengarahkan pembelajaran ke pendekatan teaching to the test, di mana siswa dilatih menggunakan contoh soal-soal AKM. “Namun sebaliknya pembelajaran mestinya dikonstruksi agar bisa menguatkan dua kompetensi utama: literasi dan numerasi,” pungkasnya.

Komponen asesmen nasional terdiri dari Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), survei karakter, dan survei lingkungan belajar. Untuk AKM terdiri dari literasi dan numerasi. Survei karakter terdiri dari enam sub topik yang akan disurvei. Diharapkan dari hasil survei karakter akan keluar sebuah paradigma profil pelajar yang disebut profil pelajar Pancasila. Sementara, survei lingkungan belajar, berupa survei kondisi belajar, metode belajar, dan lainnya.

Terkait asesmen nasional, semua sekolah wajib ikut, baik sekolah negeri maupun swasta. Sementara yang akan dipilih acak yaitu siswa sebagai peserta asesmen, bila sekolah memiliki jumlah siswa kelas XI lebih dari 45 orang. Namun, bila suatu sekolah jumlah siswanya 45 orang  atau kurang dari 45 orang, maka semua siswa akan diikutkan dalam asesmen nasional. (ron)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional