Alumni FKIP Diminta Seriusi Profesi Guru

0
Suasana yudisium mahasiswa FKIP Ummat, Jumat, 19 Februari 2021. (Suara NTB/dys)

Mataram (Suara NTB) – Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) Dr. H. Arsyad Abd. Gani meminta agar alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) serius menekuni profesi keguruan. Profesi guru bukan sembarang profesi, karena membutuhkan ketekunan dan keteladanan yang luar biasa.

“Guru itu miliki dampak yang luas. Tidak mudah jadi guru, tapi banyak anggap remeh jadi guru,” kata Arsyad saat hadiri yudisium FKIP Ummat, Jumat, 19 Februari 2021.

IKLAN

Menurutnya, menjadi guru memiliki karakteristik berbeda dengan profesi yang lain. Hal demikian tercermin dari sikap dan cara berpakaian yang ditatar berbeda sejak di bangku kuliah.

“Ummat tidak hanya ditunggu soal ilmunya baik tapi juga miliki nilai keislaman yang baik. Kalian semua ini calon guru. Kalau fakultas lain boleh pakai jeans, kalian tidak boleh karena sebagai calon guru,” paparnya.

Karena guru adalah figur yang ditiru dan digugu. Guru pasti berpakaian yang rapi. Kalau gurunya tidak rapi, tentu saja tidak mencerminkan sikap yang baik bagi para siswa. Meski demikian, profesi guru sering dianggap masih tidak terlalu penting.

Padahal di Malaysia dan negara-negara lain, rating tertinggi itu ialah mahasiswa keguruan. Karena proses seleksi masuk fakultas keguruan cukup berat. Berbeda dengan di Indonesia yang cukup berat seleksinya ialah Fakultas Kedokteran.

Selain itu, pihaknya meminta agar alumni FKIP harus siap menjadi guru dengan segala risikonya. Oleh sebab itu persiapkan diri dengan baik sejak sekarang merupakan langkah tepat, karena tidak ada yang tidak bisa kalau tidak belajar. Arsyad juga meminta alumnus FKIP tidak berhenti belajar sampai jadi mahasiswa, melainkan harus tetap rajin membaca buku.

“Bukan hanya baca WA tapi baca buku. Kalau guru tidak baca dia akan ketinggalan oleh murid-muridnya. Selamat pada anak anakku semua yang telah mampu selesai kan studi di FKIP dengan baik. Ada yang pecah rekor bisa wisuda selama tujuh semester,” ujar mantan Kepala Dinas Perpustakaan NTB ini.

“Ketika kalian selesai di perguruan tinggi ada masyarakat yang menunggu kalian disitulah ilmu kita diuji dengan ilmu yang telah diperoleh. Ilmu kita ditunggu oleh masyarakat. Baik ilmu keguruan dan ilmu keagamaan. Karena ini merupakan perguruan tinggi keagamaan,” jelasnya. (dys)