Ali BD Tulis Dua Buku, Usia Tak Jadi Halangan untuk Berkarya

Ali BD bersama Direktur LPPM UGR Lalu Nurul Yakin menunjukkan dua buku hasil karyanya. (Suara NTB/rus)

Rektor Universitas Gunung Rinjani (UGR), Dr. H. Moch Ali Bin Dachlan alias Amaq Asrul alias Papuq Abada berhasil menulis dua buah buku. Masing-masing berjudul Politik Nafsu Menghukum dan Ibuku Sayang. Dua karya ini membuktikan usia tak membuat jadi halangan untuk berkarya.

Jumat, 18 Desember 2020, bertempat di Hotel Puri Senggigi, Suara NTB berkesempatan hadir dalam acara soft launching buku-buku Ali BD – sapaan akab mantan Bupati Lotim ini. Rehatnya dari jabatan politiknya sebagai Bupati Lotim dan bergelut di dunia akademisi membuatnya terus mencoba memberikan manfaat bagi masyarakat. Dua buku ini diterbitkan LPPM UGR bersama beberapa buku lainnya.

Ali BD lahir pada 20 Desember 1948. Saat ini usianya sudah 72 tahun. Bapak dari drg. H. Asrul Sani M. Kes dan Ahmad Zulfikar ini tetap aktif mengisi kajian-kajian ilmiah dan menulis. Menurutnya, anak-anak kecil di Amerika sudah bisa menulis. Sementara, banyak orang yang sudah botak di Indonesia belum juga bisa menulis.

Baginya, untuk menjadi bangsa yang kuat harus terus mengembangkan ilmu pengetahuan. Bukan sebaliknya melakukan penipisan ilmu pengetahuan. Buku-buku yang dihadirkan ke tengah ruang publik harapannya bisa dibaca. Inilah salah satu cara Ali melakukan tranformasi pengetahuan.

Buku pertama yang Politik Nafsu Menghukum berisi kumpulan artikel Amaq Asrul.Dalam buku setebal 156 halaman itu, Ali BD banyak memberikan kritik atas kebijakan hukum yang dikeluarkan pemerintah. Nafsu  menghukum tulis Ali BD dalam buku menyebut perilaku pejabat politik di Indonesia yang dikesankan sangat senang melihat penderitaan orang lain.

Dicontohkan, hukuman pemecatan terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) yang yang terjerat kasus tindak pindana korupsi. Para ASN ini sudah di penjara dan membayar denda. Padahal, dalam pandangan Ali BD, memberikan sentuhan kasih sayang akan membuat seorang pnjahat akan lebih dalam rasa penyesalan dibandingkan bertumpuk amarah dan kebencian. Sehingga, kebijakan hukum tambahan memecat ASN bertentangan dengan kewajiban negara untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga negaranya.

Sementara, buku kedua Ali BD berjudul “Ibuku Sayang” merupakan buku baru berupa kumpulan cerita pendek (cerpen). Buku Cerpen setebal 200 halaman mengungkap berbagai fenomena sosial masyarakat Suku Sasak.

Sebagai seorang peneliti, Ali BD yang juga mantan wartawan Tempo ini mempersembahkan karya yang luar biasa. Fakta empirik yang dialaminya ditulis dengan dengan sangat jelas. Sebagai bagian dari warga Suku Sasak, ditampilkan Ali BD kritik-kritik sosial di tengah masyarakat Sasak. (rus)