Alat Produksi Tahu Ketinggalan Zaman

Perajin tahu dengan alat alat tradisional.(Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Peralatan produksi tahu, juga tempe, yang digunakan oleh para perajin sejatinya sudah sangat ketinggalan zaman. Padahal, tuntutan kekinian adalah produksi cepat dan efisien. Dalam sejarahnya, asal muasal pembuatan tahu dimulai oleh Bangsa Cina yang mendiami Lombok, ratusan tahun lalu. Sebelum zaman kemerdekaan, cerita H. Muh. Hasbah, Ketua Perajin Tahu dan Tempe di Kekalik, Kota Mataram. Perajin tahu tembe bernaung di bawah koperasi “Beriuk Pacu”, H. Hasbah sekaligus ketua koperasinya.

Bangsa Cina saat itu memproduksi tahu dan tempe di Cakranegara. Masyarakat di Kota Mataram adalah para tenaga buruhnya. Saat itu produksi tahu sangat terbatas. Lama mengabdi sebagai buruh produksi tahu, sebagian masyarakat yang menjadi buruh ini kemudian berinisiatif memproduksi tahu secara mandiri. “Itulah cikal bakal kenapa tahu berkembang salah satunya di Kekalik,” cerita H. Hasbah.

Iklan

Sejak ratusan tahun lalu, produksi tahu menggunakan alat-alat sederhana. Tak jauh beda hingga sekarang yang digunakan para perajin di Kekalik untuk membuat tahu. Hanya saja, dulunya penggilingan bahan baku kedelai menggunakan batu. Saat ini sudah dimodernisasi menggunakan mesin penggiling kedelai. Mesin produksi tahu saat ini sudah berkembang, terutama di Pulau Jawa.

Sementara di Kekalik, perajin masih menggunakan alat-alat tradisional. Terutama untuk pencetakannya. Pemeras cetakan masih menggunakan tindihan batu-batu yang tentu tidak ringan. Batu batu itulah yang harus diturunnaikkan secara manual oleh perajinnya. “Tau sendiri, betapa beratnya menurun naikkan batu untuk mencetak tahu. Ndak heran kalau anak-anak muda ndak mau menjadi perajin tahu tempe, berat sekali pekerjaannya,” katanya.

“Alat-alatnya masih tradisional digunakan. Ibaratnya, orang sudah sampai bulan, kita masih di Mataram,” ujarnya. Para perajin di Kekalik, lanjut H. Hasbah, seyogiyanya sudah mencoba menggunakan alat pemeras tahu menggunakan ulir. Namun hasilnya tidak maksimal. Karena itu, perajin tetap memilih menggunakan batu.

Sebagai ketua kelompok perajin, H. Habsah menyambut baik industrialisasi yang dilakukan oleh pemerintah. Salah satunya industrialisasi tahu menggunakan mesin-mesin produksi yang lebih cepat dan efisien. Tahu tempe masih sangat menjanjikan. Saat ini ada 83 perajin tahu, di Kekalik. Dan 115 perajin tempe. Seyogiyanya tahun 2020 ini ada belasan diantaranya yang berangkat menunaikan haji, dari hasil menjadi perajin tahu tempe. (bul)