Aksi Unik Pemuda Mataram Galang Kepedulian untuk Palestina

Aksi pemuda Mataram saat penggalangan dana untuk Palestina saat Car Free Day di Jalan Udayana, Minggu.

“Apakah sampai padamu berita tentang Masjidil Aqsha? Di halamannya menggenang darah dan tubuh-tubuh yang terbongkar. Peluru yang berhamburan di udara menyanyikan lagu kematian menyayat nadi…,” getir seorang relawan ketika membacakan puisi karya Helvy Tiana Rosa di sela aksi kepedulian “Indonesia Selamatkan Palestina.”

AKSI itu digelar pada Ahad (10/3), di Jalan Udayana Mataram, berbarengan dengan kegiatan Car Free Day (CFD). Aksi kepedulian yang digagas oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) ini turut didukung oleh Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), dan sejumlah komunitas pemuda di NTB. “Seperti di kota-kota besar lainnya, Mataram juga ikut menyuarakan dukungan untuk Palestina.

Iklan

 Ini sebagai bentuk kepedulian kami untuk masyarakat Palestina, yang hingga kini masih terpuruk dalam blokade Israel,” ucap Juaini dari Tim Kemitraan ACT NTB. Hari selaku koordinator aksi kepedulian tersebut menambahkan, selain menyuarakan dukungan, peserta aksi juga menggalang dana yang nantinya akan disalurkan dalam bentuk bantuan kemanusiaan untuk Palestina. Penggalangan dana tersebut dilakukan dengan cara yang unik, yakni dengan memberikan jasa

pengecekan kesehatan, cukur rambut, hingga lukis hena. Hasil keuntungan dari penjualan jasa tersebut didonasikan untuk Palestina. “Mereka adalah mitra kami (ACT-MRI) yang memang sama-sama peduli Palestina. Untuk di Mataram sendiri, aksi kepedulian Palestina yang didukung oleh berbagai lembaga dan seluruh komunitas di NTB ini adalah yang pertama kalinya. Semoga ini awal baik agar selalu bersinergi dalam membantu saudara saudara kita di Palestina,” ungkap Hari.

Seperti yang diketahui, sejak 1967, Israel telah menghancurkan ribuan rumah, sekolah, dan tempat usaha milik warga Palestina. Selama lebih dari lima dekade ini, Palestina menjadi salah satu negara yang memiliki pengangguran terbesar di seluruh dunia akibat konflik berkepanjangan. “Dan sekarang kelaparan dan krisis air bersih menjadi momok yang menakutkan bagi bangsa Palestina. Sungguh sangat memprihatinkan kondisi anak-anak di Palestina, banyak anak-anak yang mengalami kekurangan gizi karena orang tua mereka kurang mampu membeli pangan yang memadai,” imbuh Juaini.

Hingga saat ini, ACT terus berupaya menyediakan pangan bagi warga Palestina yang amat membutuhkan. Selain melalui program Humanity Card dan Dapur Umum Indonesia, ACT berencana mengirim bantuan pangan dalam skala masif untuk Palestina. Ribuan ton bahan pangan seperti tepung, gula, dan susu akan dilayarkan menuju Palestina melalui program Kapal Kemanusiaan Palestina. (r/*)