Aksi Jalan Kaki 120 Km Karyawan PT. AMNT, Manajemen Patuh pada Aturan

Mataram (Suara NTB) – Belasan karyawan PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) melakukan aksi jalan kaki sepanjang 120 kilometer (Km) dari Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) – Kota Mataram. Aksi yang dilakukan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan Restrukturisasi Tenaga Kerja (RTK) yang dilakukan perusahaan pertambangan di Batu Hijau, Sumbawa Barat.

Wakil Ketua Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) KSB, Jayadi menyebut kebijakan RTK yang sifatnya sukarela namun dalam implementasinya adalah paksaan.

Iklan

‘’Teman-teman yang tidak mau mengambil program ini. Tidak mau ikut ambil bagian dalam program ini kemudian didatangi secara khusus, secara pribadi. Yang menurut kami itu adalah intimidasi,” kata Jayadi dikonfirmasi ketika baru sampai di depan Kantor Gubernur, Sabtu siang, 24 Februari 2018.

Jayadi melakukan aksi jalan kaki dari KSB – Kota Mataram Mataram bersama 13 karyawan lainnya. Terdiri dari 11 karyawan PT. AMNT dan 3 karyawan PT. Bumi Harapan Jaya (BHJ), sebuah perusahaan tambak udang di KSB yang juga mengalami nasib yang sama. Sesampai di Lombok Timur (Lotim) dan Kota Mataram, ada dari serikat pekerja yang ikut bergabung.

Seharusnya, kata Jayadi kebijakan RTK tersebut sukarela. Namun, ketika ada yang tidak mau mengambil program tersebut, mereka malah didatangi serta ditakuti dengan aturan-aturan yang menurut perusahaan adalah benar. “Tapi menurut kami SBSI bahwa semua yang dilakukan tidak benar,” ucapnya.

Ditanya alasan mereka menolak tawaran  bergabung ke PT. MacMahon? Jayadi mengatakan seharusnya karyawan tidak dipaksa untuk mengambil program RTK tersebut. Sekarang, perusahaan memberikan batas waktu sampai 28 Februari mendatang. Dengan dalih tidak ada lagi pekerjaan di AMNT.

“Secara tidak langsung memaksa kami untuk mengambil RTK ini. Dengan dalih tak ada pekerjaan lagi. Ini kan aneh. Di BHJ juga hal yang sama. Cuma kemasannya yang berbeda,” katanya.

Aksi yang mereka lakukan untuk meminta Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi supaya mendesak PT. AMNT agar menghentikan program RTK yang disebut suatu kegilaan. Mereka juga meminta supaya dipekerjakan kembali di perusahaan pertambangan tersebut. Karena sampai saat ini beberapa orang karyawan belum mengambil program RTK tersebut.

Kemudian mereka juga meminta DPRD NTB membentuk Panitia Khusus (Pansus) kaitan dengan persoalan ini. Ia menyebut kebijakan PT. AMNT tersebut sebagai sebuah kegilaan.

“Kebijakan gila mereka adalah memaksa kami untuk keluar dari rumah kami. AMNT ini ibarat rumah kita. BHJ juga rumah kita. Kenapa kami dipaksa keluar dengan alasan yang tak jelas. Maka kami akan pilih bertahan untuk melawan,” imbuhnya.

Hal inilah yang menjadi alasan dirinya bersama belasan karyawan PT. AMNT dan BHJ untuk melakukan aksi “gila” jalan kaki dari KSB sampai Mataram sepanjang 120 Km.

“Karena mereka melakukan tindakan gila. Maka kamipun melakukan tindakan gila. Sudah berbagai cara kami tempuh untuk bisa berkomunikasi dengan mereka namun diabaikan,” ujarnya.

Pertemuan antara kedua belah pihak, kata Jayadi sudah diupayakan. Namun pihak perusahaan tidak mau hadir. Di samping itu, Pemda KSB juga dianggap sudah tak peduli dengan nasib mereka. Pemda KSB dinilai tertidur pulas. Sehingga mereka sendiri yang terpaksa memperjuangkan nasibnya sampai tingkat provinsi.

Jika tidak ada titik temu di tingkat provinsi, mereka akan melanjutkan aksi tersebut hingga ke Istana Negara di Jakarta. Rencananya, massa aksi akan bertemu dengan Pemprov NTB, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB dan DPRD NTB pada Senin (26/2), hari ini. “Pertama kami akan menemui gubernur. Setelah bertemu gubernur maka kami akan datang ke DPRD,” kata Jayadi.

Salah seorang karyawan PT. AMNT yang ikut aksi jalan kaki,dari KSB – Kota Mataram, Nunung terlihat sangat capek. Kaki kiri dan kanannya terlihat bengkak akibat berjalan seratusan kilometer dari KSB sampai Kota Mataram.

Ibu satu anak ini mengatakan dirinya ikut aksi tersebut karena menganggap kebijakan perusahaan salah. Ia mengatakan menolak kebijakan merumahkan karyawan ang dibungkus dalam kebijakan RTK. “Kita ikuti yang benar,” katanya.

Nunung mengatakan sudah 6 tahun bekerja di PT. AMNT yang dulunya bernama PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT). Sedangkan teman-temannya yang laki-laki kebanyakan sudah bekerja belasan tahun.

Ibu yang punya anak kelas VI SD di Taliwang ini  berharap apa yang menjadi tuntutan aspirasi para pekerja menjadi perhatian gubernur dan DPRD NTB. Selama dalam perjalan ke Mataram, Nunung mengatakan dirinya istirahat bersama teman-temannya di Polsek dan masjid-masjid.

Aksi belasan karyawan PT. AMNT ini mendapatkan perhatian Pemprov NTB. Terlihat ada dua ambulance milik RSUD NTB yang standby di lokasi. Tim Medis RSUD NTB langsung memeriksa kesehatan puluhan massa yang menggelar aksi jalan kaki tersebut.

Kepala Divisi Prehospital RSUD NTB, H. Awaludin didampingi dr. Nyoman dari Bidang Pelayanan mengatakan kondisi para karyawan yang melakukan aksi jalan kaki dari KSB ke Kota Mataram itu stabil. Dalam artian, tidak ada masalah yang serius terkait dengan kondisi kesehatan mereka walaupun sudah menempuh perjalanan seratusan kilometer.

“Dari pemeriksaan fisik hanya luka-luka lecet saja di kaki akibat perjalanan jauh karena aspal. Sama kena sepatu dan sandal. Kami sudah melakukan upaya pembersihan luka, merawat luka dan berikan obat penghillang rasa nyeri dan antibiotik,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan, ada satu orang yang ditemukan mengalami hipertensi ringan. Kemungkinan, kata Awaludin karena kelelahan. Sehingga pihaknya memberikan penghilang rasa nyeri dan penurun tekanan darah. “Secara fisik kondisi semuanya aman,” tandasnya.

Menanggapi aksi yang dilakukan karyawan tersebut, Senior Manager Social Responsibility PT. AMNT, Syarafuddin Djarot dalam keterangan tertulisnya mengatakan dalam menjalankan operasinya, PT. AMNT selalu berpegang pada peraturan dan perundangan yang berlaku.

Termasuk Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan peraturan perundangan di bidang ketenagakerjaan. Ia menjelaskan pengalihan dan pengaturan fungsi dan peran di antara berbagai perusahaan di Grup Amman Mineral dilakukan dalam rangka sinergi. Demi menjamin kelangsungan jangka panjang operasional Batu Hijau dan pekerja. Serta pemangku kepentingan lainnya.

“Manajemen PT. AMNT tetap patuh dan taat dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam PKB AMNT2017/2018,” kata Djarot, Minggu, 25 Februari 2018.

Terkait dengan merumahkan karyawan/pool sampai dengan batas waktu yang akan ditentukan kemudian, klaim Djarot telah sesuai ketentuan yang berlaku. Ia mengatakan kebijakan ini merupakan langkah strategis perusahaan dan bagin dari program rasionalisasi perusahaan untuk memastikan kegiatan operasional dilakukan secara efisien dan berkesinambungan.

Ditambahkan, PT. AMNT tengah menyelesaikan tahap akhir rencana RTK perusahaan yang bertujuan untuk mencapai jumlah tenaga kerja yang sesuai, produktif dan efisien untuk mencapai tantangankerja PT. AMNT di masa yang akan datang. Saat ini, ungkapnya, sudah 94 persen dari jumlah keseluruhan karyawan yang secara sukarela telah berhasil mengikuti program RTK.

“Saat ini pihak perwakilan resmi karyawan, yakni FSPKEP-SPSI, SPAT dan SPN tengah menjalin komunikasi dengan manajemen. Sedangkan SBSI tidak bisa mewakili karyawan PT. AMNT karena mereka tercatat di AMNT hanya berjumlah 21 orang, terdiri dari 20 pengurus dan satu anggota,” tandasnya.

Diketahui, November 2016, Amman Mineral International secara resmi menyelesaikan akusisi kepemilikan saham mayoritas pada PTNNT. Jumlah karyawan PTNNT pada saat itu 3.553 orang. Dengan akusisi saham itu, nama PTNNT berubah menjadi PT. AMNT.

Pada Mei 2017,  perusahaan menjalankan program RTK, yang berupa paket pensiun dini sukarela dan paket pengunduran diri sukarela. Dengan paket pesangon/pensiun khusus dengan tambahan paket insentif atau kebijakan perusahaan. Sebanyak 3.200 orang lebih atau 93 persen karyawan telah mendaftarkan diri untuk mendapatkan paket RTK.

Mulai Agustus 2017, perusahaan telah memberikan persetujuan pelepasan karyawan. Total karyawan yang telah mendapatkan paket pengunduran diri sukarela maupun pensiun dini sukarela sebanyak 1.005 orang.

Sebagai bagian rencana strategis perusahaan, pada Juli 2017, pemegang saham AMNT mengakuisisi saham pengendali PT. MacMahon. Dan MacMahon diminta untuk mengelola departemen dan aktivitas penambangan proyek Batu Hijau AMNT.

Karena departemen mining dioperasikan oleh PT. MacMahon, maka perusahaan meminta karyawan untuk secara sukarela ditransfer ke MacMahon dengan memberikan paket pesangon yang nilanya setara dengan paket RTK. Sebanyak 994 karyawan menyatakan diri secara sukarela pindah ke MacMahon mulai November 2017.

Sementara saat ini masih ada 89 karyawan yang tidak mau bergabung dengan MacMahon. Dan posisi mereka telah diisi melalui rekrutmen. Sehingga mereka saat ini tak memiliki posisi di perusahaan. Mereka pada saat ini dalam posisi pool dan standby.

Pada Februari 2018, perusahaan mengumumkan restrukturisasi organisasi tingkat korporasi. Dengan dibentuknya tiga perusahaan baru. Yakni Amman Integrasi (AMIG) yang mengelola SDM untuk Amman Mineral Group. Kemudian, Amman Industri (AMIN) yang akan mengelola smelter dan Amman Energi (AMEN) yang akan mengelola pembangkit tenaga listrik.

Sebanyak 950 karyawan telah menyatakan setuju untuk bergabung dengan AMIG. Dengan diberikan paket 2-1-1 plus kebijakan perusahaan. Mereka akan efektif bekerja sebagai karyawan AMIG per 1 Maret.

Ada 86 karyawan yang tidak mau bergabung dengan AMIG yang sebagian besar pengurus serikat pekerja. Dan ada 40 orang yang tidak memiliki posisi di struktur AMIG. Menejemen merencanakan untuk menjadikan status mereka menjadi pool. Sementara mereka masih tetap diberi tawaran untuk bergabung dengan AMIG bagi yang memiliki posisi di AMIG sampai batas waktu sesuai kebutuhan perusahaan. Saat ini masih tersisa 187 karyawan dari 3.553 orang atau 6 persen karyawan yang belum menerima proses RTK. (nas)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional