Akses Masih Terbatas, Jurusan Agama di MAN 1 Lobar Kekurangan Peminat

0
Suasana belajar mengajar di Kelas Jurusan Agama di MAN 1 Lobar. Jurusan Agama di sekolah ini sepi peminat. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Jurusan Keagamaan seperti yang berada dalam Madrasah Aliyah Negeri (MAN) tidak bisa mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2021. Hal itu disebabkan Jurusan Agama yang ada pada sekolah tersebut tidak berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Selain itu, beberapa jurusan keagamaan itu juga sebagian besar hanya tersedia di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Karena itulah jurusan keagamaan tidak disertakan dalam SNMPTN 2021. Siswa jurusan keagamaan bisa mengikuti proses masuk perguruan tinggi yang berlaku seperti tahun-tahun sebelumnya atau sesuai aturan Kemenag.  “Karena itulah jurusan ini kurang diminati,” kata Kepala MAN 1 Lobar H. Nasri Anggara belum lama ini.

IKLAN

Dikatakannya bahwa Jurusan Agama pada MAN 1 Lobar tidak selaris pada jurusan lain. Tertutupnya akses mengikuti SNMPTN pada setiap kali penerimaan mahasiswa baru mempengaruhi minimnya peminat pada jurusan ini.  “Peminatnya agak kurang karena saat SNMPTN tidak bisa diikuti kan,” kata mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Lombok Tengah ini.

Pihaknya tidak bisa berbuat banyak lantaran hal demikian merupakan kebijakan pemerintah pusat. Demikian pula masyarakat lebih melihat untuk mempelajari agama tidak cukup jika hanya dilakukan di MAN saja.  “Itu problem itu tidak bisa ikut seleksi itu berpengaruh pada minat masyarakat selain itu juga bersaingan dengan ponpes,” paparnya.

Dalam perspektif masyarakat kalau untuk mempelajari agama maka tempat yang terbaik ialah di pondok pesantren. Sehingga ketimbang mempelajari agama nanggung lewat madrasah lebih baik memasukkan anaknya ke pesantren.

“Sehingga mata pelajaran agama yang diperoleh di madrasah itu sangat nanggung dibandingkan dengan ponpes sehingga lebih baik mondok di pesantren,” sambungnya.

Lebih jauh dikatakan Nasri Anggara bahwa jurusan agama didesain sebagai lulusan yang memiliki seperangkat pengetahuan agama dan keahlian dasar agama memadai. “Paling tidak lulus bisa jadi imam salat karena tidak diajari baca kitab,” jelasnya.

Di samping tidak mempelajari kitab kuning jurusan agama berbeda dengan jurusan keagamaan yang menyiapkan fasilitas pemondokan. Namun jurusan agama tidak mondok.  “Cara mengajar konvensional hanya saja mata pelajaran yang disajikan sesuai dengan jurusan. Tidak diasramakan,” tegas Nasri Anggara. (dys)