Akses Jalan Tani Kawasan Hutan Dibuka, Petani Dapat Harga Lebih Baik

Kelompok Tani Porang Batu Rakit Kecamatan Bayan KLU gotong royong membuka akses jalan tani menuju kawasan hutan produksi. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Petani porang yang juga petani kopi di Desa Batu Rakit, Kecamatan Bayan, kembali membuka jalan usaha tani secara swadaya. Jalan tersebut berada di kawasan hutan produksi desa setempat, dengan akses jarak sejauh 7 km.

Ketua Kelompok Tani Berkah Bersama, Rumede, kepada Suara NTB, Rabu, 13 Oktober 2021 mengungkapkan, akses jalan tani menuju lokasi hutan produksi sangat dibutuhkan oleh seluruh petani yang terlibat di kawasan hutan kemasyarakatan Desa Batu Rakit. Ketiadaan akses angkut hasil kebun, membuat harga komoditas yang dihasilkan petani anjlok.

Iklan

“Sebelum ada jalan, harga pisang murah sekali, hanya Rp500 per arit (sisir/lirang). Setelah ada jalan, pengepul bisa masuk dan harga pisang melonjak. Per arit (sisir) bisa sampai Rp 10.000,” ujar Rumede.

Perbaikan harga yang diperoleh petani menjadi berkah tersendiri. Dari hasil penjualan itu, petani setempat bisa membiayai kebutuhan sekolah anak dari pisang.

Harga yang sama diharapkan bisa berimbas pada komoditas lain, seperti kopi, durian, vanili dan porang. Kendati untuk sementara, akses jalan itu hanya bisa dilewati kendaraan roda dua, namun petani sudah bisa melewati hutan produksi dengan aman.

Rumede menjelaskan, akses jalan dibuka secara swadaya dan semangat gotong royong masyarakat. Untuk akses utama jalan tani, setiap petani pemilik garapan di hutan produksi Desa Batu Rakit dilibatkan. Sementara, khusus 32 orang anggota Kelompok Berkah Bersama, diwajibkan gotong royong membuka jalur-jalur setapak yang menuju ke lokasi garapan anggota secara bergiliran.

“Yang dibuka ini jalan baru yang langsung masuk ke hutan produksi. Jarak dari setelah jembatan sekitar 7 kilometer. Kalau sampai jembatan swadaya yang kami bangun, sudah tembus roda 4,” jelasnya.

Rumede berharap, seiring usaha masyarakat untuk menggairahkan ekonomi dari hasil hutan bukan kayu, petani berharap pemerintah daerah menyiapkan pasar. Sebabnya, lumrah terjadi di sistem pasar bahwa pada saat panen raya satu komoditas tertentu, harga mengalami penurunan.(ari)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional