Akses Jalan Perlu Diperlebar, Pemprov Didesak Perhatikan Lembar

Kepala Desa Labuan Tereng, Humiadi Usai.
Kepala Desa Labuan Tereng, Humiadi Usai.

Giri Menang (Suara NTB) – Pihak desa mendesak agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB lebih memperhatikan kawasan Lembar, Kabupaten Lombok Barat sebagai kawasan strategis, jangan hanya lebih memperhatikan KEK Mandalika. Pasalnya, kawasan Lembar memiliki fasilitas vital yakni pelabuhan penumpang, barang, dan kapal pesiar yang menjadi pintu masuk tamu, baik dari luar daerah maupun luar negeri.

Kepala Desa Labuan Tereng, Kecamatan Lembar, Humaidi Usai mengatakan, pihaknya ingin agar Pemprov masuk mengembangkan kawasan Lembar, khususnya Tajung Nyet sebagai wajah pintu masuk kapal pesiar. “Destinasi wisata Tanjung nyet ini harus dikelola oleh Pemda atau Pemprov,” tegas dia.

Pemerintah perlu serius dalam pengembangan kawasan wisata di Lembar. Sebab kondisi saat ini begitu miris, padahal kalau melihat potensi ke depan sangat bagus untuk kuliner. “Tolong juga kembangkan Lembar sebagai kawasan wisata kuliner,” harap Humaidi.

Menurut Humaidi, saat ini saja penumpang dari kapal Roro banyak butuh kuliner. Apalagi saat kapal pesair singgah, banyak wisatawan asing singgah di sana. Kalau pihak desa yang mengembangkan kawasan itu, dirasa tidak mampu akibat keterbatasan anggaran.

Sementara itu, GM Pelindo III Lembar, Baharudin, mengatakan pihaknya bermimpi Gili Mas itu menjadi pelabuhan internasional di Lombok. Untuk mewujudkan itu tentu perlu dukungan semua pihak. Terkait itu, pihaknya sudah menyampaikan kepada para kepala desa agar penataan di lingkar kawasan pelabuhan dipercantik. Karena pada sore hari kawasan tersebut penuh, terutama rest area. Hanya saja menu yang tersedia terbatas. Misalnya ikan bakar, di sana terdapat lapak yang perlu dibuatkan bilik-bilik agar pengunjung nyaman.

Untuk sopir kendaraan pun sudah disiapkan tempat mandi agar tertib. Dari situ pihak desa melalui BUMDes atau pihak dusun bisa mendapatkan pendapatan dari penyewaan tempat mandi tersebut. Karena sopir tidak diizinkan mandi di pelabuhan, karena fasilitas di pelabuhan itu khusus bagi tamu kapal pesiar. Di areal ini, pihaknya juga menyiapkan toilet. Pihaknya menunjuk kepala dusun untuk mengelola tempat mandi itu. “Awalnya sopir keberatan, tapi sudah dipahami sekedar bayar Rp5 ribu sekali mandi,” imbuh dia.

Ia mengakui memang kondisi jalur menuju pelabuhan Gili Mas memang kurang lebar sehingga rawan kemacetan. “Jalan itu rencananya nanti diperlebar,” jelasnya. Panjang jalan ini mulai dari Simpang Tiga Segenter Lembar sampai dengan Pelabuhan Gili Mas sekitar 7 kilometer. Rencananya akses jalan ini diperlebar, karena informasi dari Dinas PU Provinsi NTB sudah disetujui oleh pemerintah pusat. (her)