Akibat Gempa, PDAM KLU Mengalami Kerugian Rp25 Miliar

Direktur PDAM KLU, Raden Waliadin (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – PDAM Kabupaten Lombok Utara (KLU) dihadapkan pada persoalan berat dalam proses recovery pelayanan air bersih pascabencana gempa. Pasalnya PDAM KLU melaporkan kerugian akibat bencana sebesar Rp 25 miliar, dengan tingkat kerusakan ikut mengarah pada prasarana layanan air bersih di pelanggan SR (sambungan rumah).

Direktur PDAM Lombok Utara, Raden Waliadin, SE., di sela – sela pembahasan RKA PDAM 2019 mengungkapkan pihaknya tetap berupaya maksimal untuk memberi pelayanan air bersih kepada masyarakat. Tahun 2019 mendatang, pihaknya fokus pada beberapa kendala pelayanan yang dialami pascagempa. Antara lain, menambah cakupan air baku, perbaikan jaringan (IPA) rusak, dan mengganti rekening meter pelanggan SR.

Iklan

“Estimasi sementara SR rusak sekitar 7 ribu pelanggan, itu sama dengan 50 persen dari jumlah pelanggan kita sebanyak 14 ribu pelanggan,” ujar Waliadin.

Ia menyebut, jumlah kerugian PDAM akibat gempa yang dilaporkan ke KAP (Konsultan Akuntan Publik) dan BPKP sebanyak Rp 25 miliar. Kerugian itu muncul akibat kerusakan aset (gedung, perpipaan dan meter air), serta akibat mandeknya tagihan masyarakat. PDAM Lombok Utara mengalami penurunan drastis pada penerimaan bulanan. Dari sebelum gempa, PDAM menerima setoran pelanggan antara Rp1 miliar – Rp1,4 miliar lebih menjadi hanya Rp 100 juta per bulan saja.

Tahun 2019, PDAM harus bisa memastikan adanya tambahan sumber air di setiap cabang baik Bayan, Kayangan dan Pemenang.

Di Cabang Bayan sumber air diketahui merosot pascagempa. Demikian juga di Kayangan. Dua mata air di Kayangan masih harus berbagi dengan masyarakat untuk irigasi dan Pamdes. “Untuk menambah air baru, harus ada DED dulu untuk syarat ajukan ke Satker. Tidak bisa serta merta kita pasang sumber air tanpa DED,” imbuhnya. (ari)