Akibat Cuaca, Stok Elpiji Berkurang di Pasaran

Mataram (Suara NTB) – Cuaca laut yang sedang tak bersahabat dalam beberapa waktu terakhir mengakibatkan pasokan elpiji dari Bali dan Jawa terganggu. Dampaknya, elpiji mulai jarang dijumpai di pasaran.

Di beberapa pengecer elpiji 3 Kg di Kota Mataram rata-rata kosong. Menurut pengecer, dalam beberapa hari terakhir antaran dari pangkalan yang berkurang. Bahkan tak ada sama sekali.

Iklan

“Beberapa kali saya minta, ndak dikasi. Katanya tidak ada stok,” ujar salah seorang pengecer yang enggan disebutkan namanya, kepada Suara NTB.

Alhasil, pengecer hanya menyimpan tabung-tabung kosong. Entah sampai kapan, mereka juga tak berani memastikan. Meski dengan kondisi demikian, untungnya harga tak mengalami kenaikan. Penebusan Rp 18.000/tabung masih tak berubah harga.

AA, salah seorang pemilik pangkalan di Kabupaten Lombok Timur juga mengakui kelangkaan pasokan elpiji. Sejak dua minggu terakhir, pasokan dari agen berkurang. Pesanan yang telah dibayar sejak seminggu yang lalupun sampai saat ini belum dipenuhi oleh agen.

“Atau datang sehari, seharinya ndak. Ini karena pengiriman dari luar daerah yang menggunakan kapal tongkang kecil,” akunya.

AA menyebutkan stok yang dimiliki sekarang kosong. Pesanan tak bisa dipaksa. Sebetulnya gangguan cuaca laut sering juga terjadi. Tetapi, kali ini yang dianggap kondisinya paling parah.

“Kondisi lapangan juga paling parah sekarang. Tumben seperti ini,” imbuhnya.

Akibat terbatasnya pasokan dari agen, pangkalan kemudian menjadi sasaran pengecer-pengecer, demikian juga masyarakat. mereka datang langsung memprotes kata AA.

“Karena mereka tidak tahu kondisinya, dikira kita yang ngakali. Kita maklumi, karena sudah jadi kebutuhan utama,” imbuhnya.

Meski begitu, harga tetap tak boleh dinaikkan. Penjualannya sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun menjadi terganggu ketika ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kesempatan. Misalnya jatah kepada pangkalan oleh agen dinaikkan harganya.

“Agen yang memiliki stok dan hanya menerima pembayaran langsung (tidak transfer), harga barangnya naik. Tapi bukan agen yang menaikkan, kemungkinan ulah supir-supir yang ngantar. Bagi siapa yang berani beli, dia yang dikasi, asal sepakat harga,” demikian pengakuannya.

Dikonfirmasi terpisah, Firdaus Sustanto Sales Eksekutif Pertamina Depo Ampenan mengakui ada gangguan distribusi elpiji. “Tapi hari ini (kemarin; red) sudah normal,” ujarnya.

Terganggunya distribusi lebih diakibatkan gangguan non teknis. Cuaca tidak dapat diprediksi pergerakannya. Firdaus menyebut, keterlambatan pasokan elpiji dari Bali akibat tingginya ombak. Sehingga otoritas pelabuhanpun harus menyesuaikan keadaan untuk memberikan jadwal bongkar muat kapal.

“Cuaca ekstrem, kapal tidak bisa sandar,” terangnya.

Saat kondisi berangsur normal, Firdaus mengatakan Pertamina melakukan manajemen pengelolaan stok dengan memperbesar jumlah kapasitas angkut kapal. Biasanya Pertamina hanya mengirim sebanyak 25 skidtank, ditambah 4 skidtank. Sehingga dalam sehari 29 skidtank berisi masuk Lombok untuk memperkuat stok di agen-agen.

Ketahanan stok elpiji hanya mampu bertahan 2,5 hari. Kendati begitu, Pertamina terus berupaya memperkuat cadangan stok. Karena itu, akhir tahun ini Depo Elpiji yang sedang dibangun di Sekotong Lombok Barat harus dioperasikan targetnya. Dengan begitu, ketika cuaca sedang tak menentu, ketahanan stok dapat dipertahankan hingga 10 hari.

“Kalau Depo mini sudah beroperasi. Stok bisa mencapai 3.000 Metrikton. Dan tahan untuk kebutuhan elpiji di Lombok selama 10 hari, termasuk memenuhi kebutuhan elpiji di Sumbawa setelah konversi,” demikian Firdaus. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional