Akar dan Masalah Gizi Buruk Perlu Diketahui

Lina Nurbaiti dan Azhar Zaini (Suara NTB/ron)

Mataram (Suara NTB) – Gizi buruk yang masih ditemukan di lapangan tidak hanya diatasi dengan kebijakan jangka pendek. Perlu ada kebijakan khusus yang harus dilakukan pemerintah, sehingga tidak ada lagi penderita gizi balita masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan pemerintah daerah. Dalam menuntaskan masalah ini, penyebab gizi buruk harus diketahui akar dan pokok masalahnya.

Pemerhati kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Mataram (Unram), dr. Lina Nurbaiti, M.Kes, FISPH, FISCM, ditemui beberapa waktu lalu menjelaskan, beberapa faktor yang menyebabkan gizi buruk atau kurang telah dijelaskan dan diperkenalkan oleh UNICEF dan telah disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Penyebabnya terdiri dari beberapa tahap yaitu penyebab langsung, tidak langsung, akar masalah dan pokok masalah.

Iklan

Penyebab langsung yaitu konsumsi makanan anak dan penyakit infeksi yang mungkin diderita anak. Penyebab gizi kurang tidak hanya disebabkan makanan yang kurang tetapi juga karena penyakit infeksi. “Anak yang mendapat makanan yang baik tetapi karena sering sakit diare atau demam dapat menderita kurang gizi,” ujarnya.

Adapun penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan. Faktor-faktor tersebut sangat terkait dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan keterampilan keluarga. Pola pengasuhan anak dapat berpengaruh terhadap konsumsi makanan anak dan penyakit infeksi yang mungkin diderita anak balita.

Ia menjelaskan, terdapat tiga jenis gizi buruk yang sering dijumpai yaitu kwashiorkor, marasmus dan gabungan dari keduanya marasmus-kwashiorkor. Pengertian kwashiorkor sendiri adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang inadekuat.

Kwashiorkor dapat dibedakan dengan marasmus yang disebabkan oleh asupan dengan kurang dalam kuantitas tetapi kualitas yang normal, sedangkan marasmiks-kwashiorkor adalah gabungan dari kwashiorkor dengan marasmus yang disertai dengan edema.

Kasus yang banyak tejadi di NTB, kasus  gizi buruk karena penyerta penyakit berat, misalnya terkena HIV/Aids, TBC, diare, masalah infeksi itu yang kayaknya lebih dominan untuk kasus gizi buruk, lebih banyak ketimbang makanan.

“Makanan sudah tidak terlalu mengkhawatirkan, meskipun itu nanti berkaitan dengan pola asuh terutama anak yang ditinggal oleh ibunya menjadi TKW,” jelas Lina yang juga pengajar Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) di FK Unram.

Menurutnya, untuk menanggulangi masalah gizi buruk, perlu ada perhatian terhadap Posyandu. Sejauh Posyandu sudah berjalan dengan cukup bagus, dan bahkan sudah diduplikasi oleh Negara lain. Namun, masih ada kader atau petugas kesehatan belum menjalankan atau mengisi KMS atau menginterpretasikannya dengan benar.

“Data valid harus dari teknik pengukuran yang benar, di basic-nya itu masih kurang sekali keterampilan pengukuran. Pelatihan menukik ke kader atau petugas yang ada di lapangan lebih bagus lagi kalau dilakukan,” saran Lina.

Selain itu, pemerintah masih menggunakan salah satu indikator dalam perencanaan upaya perbaikan gizi balita yaitu berat badan menurut umur (BB/U).  Padahal WHO sudah mengeluarkan anjuran, agar menggunakan semua indikatornya yaitu BB/U, tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).

Balita yang memiliki BB/U kurang belum berarti memiliki masalah gizi akut (BB/TB kurus) karena berat badannya sudah sesuai dengan tinggi badannya. Anak ini bila menjadi target intervensi PMT atau MP-ASI akan bertambah cepat pertambahan berat badannya dibandingkan dengan pertambahan tinggi badannya, sehingga akan terjadi fenomena balita pendek-gemuk.

Revitalisasi Harus Serius 

Sementara Direktur Yayasan Galang Anak Semesta (Gagas) Mataram Azhar Zaini menilai, semestinya kasus gizi buruk yang mencuat belakangan ini tidak terjadi jika posyandu bekerja dengan baik. Jika posyandu bisa melakukan deteksi lebih dini, maka kasus gizi buruk bisa tertangani dengan baik.

“Revitalisasi posyandu sudah lama kita dengar, tapi itu sering kali mencuat pada saat kasus-kasus ini sudah booming, dan itu selesai tidak ada kelanjutannya, itu yang mungkin jadi PR kita di Lombok ini,” katanya.

Revitaliasi posyandu itu memang penting. Kelompok basis perlu diberdayakan, terlebih lagi adanya anggaran dari dana desa yang diwajibkan untuk Posyandu, PKK, dan lainnya. Namun, tetap banyak yang tidak terdeteksi.

Dari pantauannya, Azhar menemukan kerap terjadi nenek yang mengasuh anak tidak kuat lagi mengantar ke posyandu. Oleh karena itu, semestinya posyandu yang harus pro aktif mencari anak-anak itu. Bisa dalam satu kali sebulan, pihak posyandu berkeliling mencari, melihat, mengidentifikasi gizi dari anak-anak yang ada di wilayah mereka.

“Kalau mereka temukan itu, mungkin tidak harus nenek itu yang ke posyandu, tapi petugas itu yang ke rumah. Kita tidak temukan hal seperti itu, anak yang tidak bisa mengakses (posyandu) sering kali diabaikan, gizi buruk muncul di situ,” ujarnya.

Azhar juga pernah menemukan posyandu di beberapa wilayah yang tidak dibekali dengan peralatan yang memadai, seperti Kartu Menuju Sehat (KMS) atau buku posyandu. Alasan pemerintah, katanya, karena buku itu dicetak berkala, dalam waktu tertentu kehabisan, sehingga ketika ada pelayanan baru, buku itu tidak ada. Padahal keberadaan buku itu sangat penting.

Pemerintah juga perlu membuat semacam standar pelayanan untuk diterapkan di posyandu. Diharapkan, dengan adanya standar pelayanan minimum itu bisa memastikan bahwa anak itu terlayani dengan baik. “Posyandu harus menjemput bola lebih jauh lagi dengan perangkat yang memang sudah ada desa,” saran Azhar.

Azhar menegaskan, kasus gizi buruk saat ini termasuk mengkhawatirkan. Bukan hanya dari segi jumlah, tapi dengan adanya kasus yang parah. “Berarti ada yang keliru, mestinya  sebelum parah harus tertangani dengan baik, kalau kita menemukan angka yang gizi buruk sekali, artinya ada banyak hal yang tidak berjalan dengan baik,” pungkasnya. (ron)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional