Akademisi Ingatkan Peran Guru Bangsa pada Anak Muda

Keluarga besar NU NTB menggelar peringatan Haul ke 11 Presiden keempat RI, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, 30 Desember lalu. Kegiatan berlangsung di Aula Universitas Nahdatul Ulama (UNU) NTB.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Keluarga besar NU NTB menggelar peringatan Haul ke 11 Presiden keempat RI, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, 30 Desember lalu. Kegiatan berlangsung di Aula Universitas Nahdatul Ulama (UNU) NTB. Presiden ke-4 Republik Indonesia Abdurrahman Wahid wafat pada 30 Desember 2009 dalam usia 69 tahun.

Ketua PWNU NTB, Prof Masnun Tahir mengatakan, ajaran Gus Dur yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapapun adalah soal Islam kosmopolit. Di mana, bagi Gus Dur tugas seorang kyai atau ulama itu bukan soal khutbah. Namun bagaimana seorang ulama itu harus juga mengenal nilai sosial kemasyarakatan, politik, budaya serta teknologi.

“Jadi, kalau sekarang ini ramai akan banyak yang suka main tiktok. Itu karena Gus Dur sudah lebih dahulu membuka pemikiran kita semuanya. Wajarlah, kita sebut Gus Dur itu sosok ulama yang pemikirannya melebihi zamannya,” kata Wakil Rektor I UIN Mataram ini.

Ketua pelaksana haul Gus Dur, Anita Wahid mengatakan kegiatan peringatan dilakukan secara daring dengan dipusatkan pada tiga kota yaitu Jakarta, Yogyakarta dan Jombang. Hanya saja, ia mengatensi anak-anak muda NU yang tergabung dalam Milenial Bintang Sembilan yang menggagas kegiatan haul Gus Dur di NTB kali ini.

Anita menegaskan, Indonesia sebagai sebuah negara multikultural tidak jarang mengalami berbagai gejolak dan konflik. Namun, Indonesia bisa bertahan karena terdapat persatuan dan solidaritas masyarakatnya. Menurut dia, Gus Dur memang sudah wafat sebelas tahun yang lalu. Tetapi semangat persatuan dan solidaritas ini terus dijaga oleh keluarga, sahabat, pengikut dan pengagum Gus Dur. Terbukti pada saat ini para Gusdurian menjadi salah satu elemen kekuatan masyarakat sipil.

“Ada ribuan penggerak Gusdurian yang terus menjaga nyala semangat yang ditinggalkan Gus Dur. Ada jutaan orang yang terinspirasi dengan laku Gus Dur dan kini sama-sama berjuang demi tegaknya Indonesia sebagai rumah bersama,” kata Anita. Ia mengajak semua generasi muda untuk meneladani perjalanan guru bangsa Gus Dur. Salah satunya ialah sikap Gus Dur yang lebih mementingkan urusan kemanusiaan di atas kepentingan politik.

“Momen ini untuk mengkaji teladan perjalanan kehidupan beliau. Kami ambil dari kata beliau, yakni ‘yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan’,” tegas Anita. Menurut dia, agenda haul Gus Dur ternyata dapat memobilisasi masyarakat untuk bersatu dan berkumpul dalam satu majlis yang dapat menciptakan suasana saling menghormati, menyayangi, dan menghargai meski di antara mereka beragam pilihan politik, status sosial bahkan berlainan agama.

Dosen UIN Mataram, Dr. Jumarin, menceritakan kisah yang tidak akan pernah dilupakannya. Yakni, saat Gus Dur dilengserkan dari jabatannya sebagai Presiden RI pada tahun 2001. Kata dia, saat itu ia tengah menempuh pendidikan magister di Malang, Provinsi Jawa Timur. Di mana, ribuan orang pendukung Gus Dur siap berangkat ke Jakarta guna membela Gus Dur melawan para pihak yang menjatuhkannya.

“Saya bayangkan jika komandonya perang, maka saya enggak bisa bayangkan akan chaos negara ini. Begitu mencekam kala itu situasi di Malang, tapi yang syukuri tiba-tiba Gus Dur berubah pikiran dan bersedia meninggalkan Istana Negara,” ungkap Jumarin.

Lebih jauh dosen UIN Mataram itu menyebutkan, berubah pikirannya Gus Dur yang rela dan ikhlas mencopot jabatan Presiden. Justru, tidak lain karena mendengar kabar ada pergerakan massa yang menuju Istana membelanya. “Beliau dilapori, ada ribuan orang bergerak ke Jakarta, siap jihad mempertahankan pemimpin mereka. Jadi, sifat kenegarawan yang mementingkan rakyat inilah yang layak ditiru oleh siapapun,” tandas Jumarin. (dys)