Ajukan Praperadilan, Tiga Tersangka Kasus Narkoba Nilai Penggeledahan dan Penyitaan Tidak Sah

Suasana persidangan permohonan praperadilan dengan termohon Ditresnarkoba Polda NTB, Senin, 21 September 2020 di Pengadilan Negeri Mataram.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Tersangka jaringan peredaran narkoba Yuspita Astri alias Upik, Adi Cahyadi, dan Erwin Subiyantara membacakan permohonan praperadilannya, Senin, 21 September 2020. Mereka memohon hakim untuk menyatakan penetapan tersangka mereka, tindakan penggeledahan, dan penyitaan Mitsubishi Strada serta uang tunai Rp62 juta tidak sah.

Petitum tersebut disampaikan dalam sidang yang dipimpin hakim tunggal Tenny Erma Suryathi di Pengadilan Negeri Mataram. Para pemohon didampingi penasihat hukum Febriyan Anindita yang menjelaskan petitum beserta dasar hukumnya.

Iklan

Febri menerangkan, terhadap Adi dan Erwin, penangkapannya dinilai tidak sah. Alasannya, kliennya tersebut ditangkap pada tanggal 19 Juni 2020. Sementara Surat Perintah Penahanan (Sprinhan) tertulis tanggal 25 Juni 2020.

“Sejalan dengan itu, pemohon telah ditetapkan sebagai tersangka, tidak pernah ada surat Perintah Penyelidikan dan  tidak ada surat Perintah Penyidikan yang dikeluarkan oleh Termohon,” terang Febri.

Dia lalu mengutip Pasal 16 Ayat (9) Perkap No. 14 tahun 2012 yang pada intinya memuat perintah penyelidikan.  “Sejak Tersangka Adi Cahyadi dan Erwin Subiyantara ditangkap dan ditahan, termohon tidak pernah menerbitkan Surat Perintah Penyelidikan dan tidak ada Surat Perintah Penyidikan,” imbuh dia.

Praperadilan juga diajukan terhadap penggeladahan. Termohon, sambung Febri, tidak memenuhi syarat yang harus dipenuhi. Diantaranya Perintah Tertulis dari penyidik; penghuni tidak menyetujui rumahnya digeledah namun termohon tetap saja menerobos masuk. “Termohon tidak membawa saksi melainkan keseluruhan hanya dari pihak Termohon,” ucapnya.

Ditambah lagi, tidak ada tokoh masyarakat setempat baik ketua RT/RW atau pihak yang dituangkan.  Bahkan hingga saat permohonan ini disampaikan Pemohon tidak mendapatkan berita acara Penggeledahan.

Dalam penggeledahan itu, Febri mengatakan ada beberapa barang yang disita. Antara lain mobil Mitsubishi Strada warna hitam bernomor polisi EA 8076 XZ a.n Erwin Subiyantara dan uang tunai Rp62 juta. “Bahwa Termohon tidak memberikan baik surat izin, surat lapor, maupun surat bukti penerimaan barang yang disita hingga permohonan ini dibuat. Oleh karena itu, barang-barang tersebut diambil secara tidak sah,” papar Febri.

Pihak termohon dalam hal ini Polda NTB diwakili tim pengacara AA Agung Gde Raka yang mana meminta putusan sela. Didahului dengan pengajuan eksepsi yang akan disampaikan dalam sidang hari ini (Selasa, 22 September 2020). “Untuk pemohon atas nama Erwin berkas perkaranya sudah dilimpahkan ke pengadilan,” terangnya.

Upik mengajukan praperadilan terhadap Kapolda NTB khusus ditujukan pada Subdit II Ditresnarkoba Polda NTB. Sidang perdana bakal digelar Senin, 21 September 2020 pekan depan. Bunyi petitumnya, penetapan tersangka mereka menurut pasal 114 ayat 1 juncto pasal 132 ayat 1 UU RI No 35/2009 tentang narkotika tidak sah dan tidak berdasar hukum.

Upik ditangkap Juli lalu di Karang Bagu, Karang Taliwang, Cakranegara, Mataram. penangkapan Upik ini merupakan susulan setelah tertangkapnya tiga tersangka lain, Yu, Adi, dan Erwin. Adi merupakan pecatan polisi. Sementara Erwin polisi aktif. Tiga tersangka ini bersaksi mengambil sabu 20 gram dari Upik. Upik kemudian ditangkap belakangan. (why)