Aisyah Odist Tantang Pemkot Mataram Perangi Sampah

Mataram (suarantb.com) – Gerah dengan masalah sampah di Kota Mataram. Pelopor Bank Sampah NTBM, Aisyah Odist bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda menantang Pemerintah Kota Mataram untuk menyelesaikan kasus sampah di Mataram. Tentunya dengan masterplan atau solusi yang disiapkan Aisyah. Demikian disampaikannya pada suarantb.com di Hotel Aruna Senggigi, Jumat, 28 Oktober 2016.

“Saya tantang Pemerintah Kota Mataram kalau perlu Pemerintah Provinsi NTB untuk menyelesaikan masalah sampah. Kalau memang mereka serius mau urus sampah ini, saya sudah ada solusinya. Tinggal pemkot mau tidak bekerja sama,” ujarnya.

Iklan

Aisyah tidak sesumbar jika menyebutkan ia punya solusi untuk masalah sampah. Ia sudah membuktikannya dengan berhasil memberdayakan masyarakat dengan kerajinan sampah plastik yang dipasarkan hingga Australia, Jepang dan Jerman. Dan semuanya itu memberdayakan masyarakat sekitar. Ditambah dengan produk olahan sampah berupa kompos Takakura yang disebut Organic Taka.

Mengenai Organic Taka ini, Aisyah berhasil memperoleh lisensi dari penemu kompos Takakura asal Jepang Koji Takakura. “Kita satu-satunya di Indonesia yang mendapat lisensi untuk produksi kompos Takakura ini secara komersil. Sekarang contoh komposnya sudah dikirim ke Jepang untuk dinilai,” jelasnya.

Jika hasil penilaian tersebut bagus, maka Aisyah akan mulai memasarkan produk Organic Taka. Namun akan dimulai dengan menargetkan pasar Jepang. “Karena orang Indonesia itu suka beli produk yang sudah laku di luar negeri. Kalo sudah laku di luar, nanti pasti mereka berbondong-bondong beli,” katanya.

6-(2)

Pupuk Kompos Takakura hasil olahan Bank Sampah NTB Mandiri, Organic Taka. (suarantb.com/ros)

Organic Taka hasil olahan Bank Sampah NTBM sudah dilakukan uji kandungan. Hasilnya menunjukkan kandungan pH 6,94, dimana menurut penelitian kompos yang bagus memiliki kandungan pH 7. Jadi Organic Taka sudah bisa dibilang pupuk kompos bagus.

Kembali membahas persoalan sampah Kota Mataram. Aisyah mengatakan ia ingin agar masterplannya tentang pengelolaan sampah ini bisa diikuti oleh pemerintah. “Selama ini pemerintah itu cuma mau mendengar rencana atau program dari pokjanya saja. Suara masyarakat tidak mau didengar,” komentarnya gamblang.

“Coba sekarang, kalau memang serius ingin mengelola sampah. Satu saja permintaan saya, buat tempat pembuangan khusus sampah organik. Atau kalau tidak, saya ingin tanya, berapa jumlah sampah organik yang dihasilkan masyarakat sehari?” pungkasnya.

Dengan mengetahui jumlah sampah organik tersebut, Aisyah bisa menentukan berapa jumlah Tempat Pembiakan Bakteri (TPB) yang harus disediakan untuk mengolah sampah organik tersebut menjadi Organic Taka. Sampah yang dibutuhkan untuk menghasilkan 10 kilogram Organic Taka diakui Aisyah mencapai satu ton. Bisa dibayangkan, sampah organik yang menumpuk di pinggir jalan dan berbau busuk bisa dikurangi dengan cara ini.

Namun itu masih sebatas mimpi. Jika Pemerintah Kota Mataram tak segera bergerak. Apa yang harus ditunggu? Sudah ada sosok seperti Aisyah Odist yang bersedia turun untuk membantu menangani sampah di Kota Mataram. Tanpa mengharapkan balas jasa dari pemerintah tentunya. Bahkan Aisyah berjanji, jika solusi pengolahan sampah organik yang ditawarkannya tidak membuahkan hasil, ia akan bertanggungjawab.

“Kalau nanti hasilnya pengolahan setelah penelitian dan sebagainya tidak bagus. Saya siap bayar semua biaya yang dikeluarkan pemkot. Tapi tentunya harus dikerjakan dengan cara yang benar, jangan asal jadi,” ucapnya. (ros)