Air Sumur Warga Tercemar Merkuri, SKPD Diminta Tindak Aktivitas Penambangan Ilegal

Mataram (suarantb.com) – Wakil Gubernur NTB, H Muh Amin menyayangkan temuan kandungan merkuri pada air sumur warga di Dusun Longlongan Desa Sekotong Tengah Kecamatan Sekotong Lombok Barat. Seharusnya, segala aktivitas masyarakat dipastikan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

“Saya kira lingkungan hidup penting untuk benar-benar memastikan jangan sampai ada pencemaran, walaupun di situ ada industri. Apakah industri padat modal, industri rumah tangga sekalipun, perusahaan harus dipastikan dia punya standar. Jangan sampai mencemari lingkungan sekitar,” tegasnya, Kamis, 7 September 2017.

Iklan

Aktivitas yang mencemari lingkungan diakui Amin harus ditindak sesuai dengan aturan yang ada. Sebab, selain merusak lingkungan, masyarakat sekitar pun akan dirugikan. Kerugian pun dirasakan warga Dusun Longlongan yakni mereka tidak bisa mengonsumsi air permukaan dan air sumur bor. Karena kandungan merkuri yang dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian.

Mengenai aktivitas masyarakat sekitar yang dikeluhkan BPBD NTB berupa kegiatan mendulang emas, yang diduga menjadi penyebab munculnya pencemaran air ini disampaikan Amin akan ada tindakan tegas. “Kalau ini aktivitas masyarakat, kita harus cek apakah ini legal atau ilegal. Nanti coba sya cek, kita lakukan koordinasi dengan dinas terkait di Lombok Barat,” ujarnya.

Temuan air mengandung merkuri ini sebelumnya disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Mohammad Rum terjadi di empat dusun di Desa Sekotong Tengah. “Di Desa Sekotong Tengah, tepatnya di Dusun Longlongan direkomendasikan oleh tim dari PMI untuk tidak dilakukan penggunaan air, apalagi air permukaan maupun air sumur bor. Karena hasil uji laboratorium katanya mengandung merkuri,” ungkapnya ditemui, Selasa, 5 September 2017.

Rum menjelaskan awalnya ia mengira kandungan merkuri ditemukan karena sumur bor yang dimiliki warga atas bantuan dana stimulan PMI tersebut hanya memiliki kedalaman sekitar 75 meter. Seharusnya, sumur itu digali lebih dalam lagi sampai kedalaman 100 meter.

Setelah diteliti lagi, Rum menduga pencemaran air tersebut terjadi akibat ulah masyarakat yang melakukan aktivitas penambangan emas liar. Dimana limbah merkuri yang digunakan untuk memisahkan biji emas dan pasir dibuang sembarangan.

“Kalau kita lihat lagi di satu sisi masyarakat itu suka melakukan penambangan liar emas, mereka memisahkan emas dan pasir pakai merkuri itu. Nah itu kan mereka buang sembarangan limbahnya. Sehingga mencemari air permukaan yang ada di sekitar,” paparnya.

Akibat pencemaran tersebut, sumber mata air di empat dusun yang ada di Desa Sekotong Tengah dipastikan tidak layak konsumsi. Bahkan, warga setempat mengaku tidak berani memberikan air tersebut pada hewan ternak. Sebab, banyak ternak ditemukan mati usai meminum air dari mata air di dusun tersebut.

“Memang nampaknya jernih, tapi kan kandungannya itu. Untuk kandungan merkuri itu PMI sudah pastikan lewat uji lab. Kemarin saya sempat ambil sample, tapi kata lab di Dikes pengambilan samplenya salah, jadi mereka sendiri yang akan turun lagi dengan alat khusus,” imbuh Rum.

Untuk memenuhi kebutuhan air minum, Rum mengatakan warga bergantung pada distribusi air. Mereka terpaksa membeli air bersih ukuran 20 liter seharga Rp 5 ribu. Selanjutnya, BPBD NTB berencana membangun sumur bor dalam.

Persoalan masyarakat Desa Sekotong Tengah sendiri ditambahkan Rum sangat unik, selain limbah merkuri yang dihasilkan dari aktivitas penambangan emas. Saat tak berburu emas, masyarakat sekitar justru melakukan pembalakan liar. “Jadi lengkap sudah, mau bilang apa kita, ya jadi hilangnya air itu memang karena ulah manusia itu sendiri,” tandasnya. (ros)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional