Ahyar Wacanakan Penghentian Izin Pembangunan Hotel

Mataram (Suara NTB) – Lahan pertanian di Kota Mataram terus menyusut dari tahun ke tahun. Untuk menjaga keseimbangan lingkungan dengan tetap mempertahankan lahan pertanian, Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh mewacanakan penghentian izin pembangunan hotel, khususnya yang akan dibangun di lahan-lahan produktif. “Pasti kita lakukan. Tidak bisa kita terus membiarkan siapapun yang akan berinvestasi di bidang perhotelan,” jelasnya, Rabu, 15 Maret 2017.

Wacana pembatasan izin pembangunan hotel juga bertujuan untuk menjaga persaingan bisnis di antara para pengusaha hotel. Jumlah hotel di Mataram saat ini mencapai ratusan dari hotel melati sampai berbintang. Ada beberapa hotel yang juga telah dibangun di lahan pertanian. “Karena kita juga harus bisa menjamin adanya persaingan yang sehat. Jadi kita harus bisa memberikan jaminan untuk itu,” jelasnya.

Iklan

Jangan sampai tingginya keinginan pengusaha berinvestasi di bidang perhotelan di kota ini justru akan memicu persaingan yang tidak sehat. Untuk itulah keberadaan hotel di Mataram juga akan dikaji Pemkot Mataram. “Perlu kita kaji apakah masih diperlukan apa tidak investasi bidang perhotelan. Kalau berdasarkan hasil kajian tidak kita perlukan, kita akan stop,” terangnya.

Saat ini eksekutif bersama legislatif sedang merevisi Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Hasil revisi inilah yang akan dijadikan acuan dalam pembangunan di Mataram. Termasuk juga bagaimana mempertahankan lahan pertanian di kota ini. “Di situ ada kebijakan-kebijakan yang nanti bisa menjamin jangan sampai terjadi pengurangan atau penyusutan terhadap lahan pertanian kita di Kota Mataram,” jelasnya. “Yang jelas bisa menjamin lahan berkelanjutan itu. Itulah yang kita sesuaikan nanti,” sambung Ahyar.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Kota Mataram, lahan pertanian di Mataram yang tersisa saat ini 1.973 hektar. Di 2016 terjadi pengurangan sebanyak 20 hektar. Alih fungsi lahan pertanian di 2016 lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya. Pada 2015 lalu lahan pertanian yang berkurang mencapai 48 hektar. Alih fungsi lahan ini kebanyakan untuk pembangunan perumahan dan terbanyak berada di kawasan lingkar selatan, yang masuk wilayah Kecamatan Sekarbela. (ynt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here