Ahyar-Mori Tak Ingin Tawarkan Program Fiksi

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah program kerja dikampanyekan pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB nomor urut 2, TGH. Ahyar Abduh dan H. Mori Hanafi, SE, M.Comm. Namun, sejumlah kalangan menyindir program yang dibuat pasangan ini dengan sebutan program fiksi, sebuah terminologi yang baru-baru ini tengah menjadi perbincangan setelah disampaikan Rocky Gerung di salah satu program tv swasta.

Terkait hal ini, TGH. Ahyar Abduh dalam berbagai kesempatan telah menegaskan bahwa program atau janji kerja yang mereka buat sesungguhnya dilandasi dengan kalkulasi yang matang. Dalam artian, program-program itu haruslah realistis dari segi target yang ingin dicapai.

Iklan

Karena itulah, dalam bahasa kiasan, Ahyar seringkali menegaskan bahwa program mereka sangat mungkin dilaksanakan. Janji yang mereka kampanyekan di masyarakat juga bukanlah hal yang muluk.

“Saya tidak menjanjikan akan memetik bintang di langit. Tapi saya menjanjikan program-program yang realistis, dan sangat mungkin diwujudkan untuk masyarakat NTB dan Lombok Barat. Insya Allah,” ujar sang tuan guru dalam kampanye di Gerung, belum lama ini.

Senada dengan Ahyar, Calon Wakil Gubernur NTB nomor urut 2, H. Mori Hanafi juga berpendapat senada. Ia misalnya, pernah memaparkan rencana memberikan tunjangan untuk guru ngaji di NTB.

Seperti diketahui, para guru mengaji atau guru honorer sesungguhnya memiliki peranan yang vital dalam pembentukan karakter anak dan remaja di NTB. Karenanya, upaya pemerintah provinsi NTB untuk memperhatikan kesejahteraan mereka juga haruslah setimpal dengan kontribusi mereka.

Dalam sebuah pertemuan dengan warga Pulau Bungin belum lama ini, Mori mengutarakan, dalam APBD NTB, Pemerintah Provinsi mengalokasikan pemberian tunjangan bagi para Marbot sebesar Rp1 juta per marbot. Namun, tunjangan untuk para guru ngaji belum dialokasikan anggaran.

Mori memperkirakan, jika jumlah guru mengaji se-NTB itu berjumlah sekitar 10 ribu orang dan diberikan tunjangan per orang sebesar Rp1 juta, maka anggaran yang dibutuhkan adalah sebesar Rp10 Miliar.

“Kami rasa dari Total APBD Provinsi NTB itu sekitar Rp6 triliunan lebih, anggaran sebesar Rp10 Miliar itu tidak terlalu membebani APBD kita. Apalagi jika kita bandingkan dengan manfaat dari pemberian tunjangan bagi guru ngaji ini tentu akan lebih memotivasi para guru ngaji kita untuk memberikan pengajaran Al-Qur’an bagi generasi muda kita,” ujar Mori.

Melihat kalkulasi tersebut, pasangan Ahyar-Mori tentu saja telah mempertimbangkan beban anggaran yang dibutuhkan untuk merealisasikan janji-janji mereka. Tentu saja, sebagai manusia akan ada hal yang tidak maksimal dilaksanakan. Sebab, bagaimanapun keduanya bukanlah  sosok pahlawan super yang bisa menyelesaikan seluruh permasalahan masyarakat sendirian.

Untuk itulah, Ahyar-Mori dalam kampanyenya selalu menekankan pentingnya  dukungan masyarakat terhadap program kerja mereka.

Pendapat senada juga disampaikan oleh sesepuh masyarakat Sasak, H. Lalu Mudjitahid alias Mamiq Mudji. Tokoh senior ini secara tegas juga menyerukan kepada masyarakat untuk mendukung TGH. Ahyar Abduh tidak sebatas dengan memberikan hak pilih atau suaranya. Lebih dari itu, masyarakat perlu memberikan dukungan terhadap program nyata yang akan dikerjakan Ahyar-Mori nantinya.

“Ayo kita dukung ustadz Ahyar, tapi jangan hanya dengan suara, dengan mengumpulkan suara untuk menangkan. Tapi dukung nanti dengan program yang nyata. Karena, beliau kan dua periode mimpin kota. Nah, di Kota berhasil kan beliau?” (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here